
Penyampaian materi mengenai seks, gender, dan kekerasan seksual oleh Direktur Eksekutif JalaStoria. Sumber. Dok. Pribadi
Perkumpulan JalaStoria Indonesia menyelenggarakan pelatihan “Literasi Pers Kampus” di ruang smart class lantai lima Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), dengan fokus memperkuat perspektif korban dan sensitivitas gender dalam pemberitaan. Kegiatan ini membekali jurnalis muda agar lebih cermat meliput isu kekerasan seksual, penghapusan diskriminasi, serta tantangan digitalisasi, sekaligus menegakkan kode etik jurnalistik dan ketentuan dalam UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).
Salah satu peserta pelatihan JalaStoria, Ari Indrawan menuturkan,isu gender harus menjadi fokus utama pemberitaan pers, khususnya pers kampus. Untuk mendapatkan kembali kepercayaan publik, lembaga pers disarankan untuk mencetak kader yang kreatif dan produktif.
“Kualitas ini dapat dibangun melalui perbaikan hal-hal mendasar, seperti menanamkan kedisiplinan dan manajemen waktu yang baik. Islam adalah agama yang tidak patriarkis dan pelakunya tidak selalu laki-laki melainkan kita perlu mengevaluasi, serta memperbaiki satu sama lain,” tuturnya.
Ketua Dewan Pers 2022-2025, Ninik Rahayu menjelaskan, fungsi utama pers adalah mencerdaskan publik dan melakukan investigasi demi kepentingan masyarakat. Jurnalis harus peka terhadap kebutuhan audiens dan tidak mudah terpengaruh berita viral yang belum teruji kebenarannya.
“Selain itu, ada dorongan khusus dari Jalastoria agar pers kampus selalu berpegangan pada 11 kunci dasar jurnalistik. Serta memastikan bahwa setiap berita yang disajikan adalah kebenaran yang berimbang dan menghormati asas praduga tidak bersalah,” ungkapnya.
(Safia Salsabila Putri)





