107.9 RDKFM

Tingkatkan Kualitas Riset, FDIKOM Dorong Mahasiswa Olah Data Kualitatif Menjadi Analisis Sistematik

Sesi diskusi pada Kelas umum International Public Lecture. Sumber. Dok. Pribadi Kelas umum International Public Lecture dengan tema “Qualitatiue Data Analyisis For Undergraduate Students: Strategy To use Field Data Into Journal Article And Undergraduate Thesis.” Pada selasa (2/12), Acara ini berlangsung di Teater Prof. H. Aqib Suminto. Dengan menghadirkan narasumber kompeten, kelas umum bertujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang konsep dan teknik analisis data kualitatif dalam penelitian ilmiah. Moderator kelas umum, Suhendra menjelaskan, pendekatan penelitian kualitatif dinilai sangat humanis karena  proses teknis yang konkret, mulai dari menemukan dan menyusun kode hingga akhirnya membentuk tema tema utama untuk kebutuhan penulisan ilmiah, baik artikel jurnal maupun skripsi. Strategi paling efektif untuk membantu mahasiswa mengolah data lapangan kualitatif adalah dengan memperkaya kualitas data, salah satunya melalui wawancara yang mendalam dan teknik probing. “Selain pengumpulan data, tahap pengolahan data juga menjadi bagian yang sangat penting. Mahasiswa diajarkan secara teknis bagaimana menyusun dan mengelompokkan kode, yang kemudian dikembangkan menjadi tema-tema pembahasan dalam bab skripsi atau bagian utama artikel ilmiah,” jelasnya. Salah satu peserta acara kuliah umum, Meisya Aini Salsabila mengungkapkan, analisis data kualitatif sangat penting karena data yang dikumpulkan tidak dituntut dalam jumlah besar, melainkan dalam kedalaman makna. Data yang diperoleh tidak hanya menjadi cerita dari narasumber, tetapi diolah menjadi bentuk analisis yang mendalam, seperti yang dibutuhkan dalam penulisan skripsi. Kedalaman analisis yang menjadikan metode kualitatif memiliki peran krusial dalam penelitian akademik. “Dalam dunia akademik, analisis kualitatif mampu meningkatkan keterampilan menulis dan menyusun karya ilmiah secara sistematis. Sementara itu, dalam dunia kerja, kemampuan ini dapat dimanfaatkan untuk menganalisis berbagai permasalahan secara lebih mendalam,” ungkapnya. (Nadine Fadila Azka)

Singkap Praktik Penculikan Wartawan, Formaci dan Dema FU Gelar Nobar Film ‘Seribu Payung Hitam’

Diskusi bersama produser film Seribu Payung Hitam. Sumber. Dok. Pribadi Pada Jumat (28/11), Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) bekerja sama dengan Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Ushuluddin (FU) UIN Jakarta menggelar nonton bersama film Seribu Payung Hitam dan Sisanya Rindu (One Thousand Black Umbrellas) di Teater Lantai Empat FU. Film yang diproduseri Erwin Arnada itu mengangkat isu politik sekaligus menyingkap kembali praktik penculikan wartawan yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar. Salah satu peserta nonton bareng, Fitri Aditya Putri menyampaikan, film ini memberikan kesan kuat karena mampu mendorong masyarakat lebih peduli terhadap isu kemanusiaan. Tayangan itu juga memunculkan keberanian untuk menyuarakan berbagai keresahan terkait kebijakan yang berpotensi merugikan banyak orang. “Kita sebagai mahasiswa punya peran besar untuk menyuarakan keresahan masyarakat dan membantu mencari jalan keluar dari persoalan yang mereka hadapi. Dari film ini, rasa peduli terhadap sesama semakin terasa, dan itu menjadi dorongan bagi kita untuk terus memperjuangkan hak-hak kemanusiaan,” ujarnya. Produser film Seribu Payung Hitam dan Sisanya Rindu, Erwin Arnada menjelaskan, film ini sempat diajukan untuk tayang di bioskop, namun tidak mendapat izin karena memuat isu politik yang sensitif, khususnya berkaitan dengan hak asasi manusia (HAM) dan persoalan kemanusiaan. Kondisi tersebut membuat film ini akhirnya diputar di berbagai kampus sebagai ruang alternatif untuk membuka diskusi publik yang lebih luas. “Dalam film ini turut diangkat peristiwa yang terjadi di Jawa Tengah, yakni kasus penculikan yang dilakukan oleh oknum yang menyamar sebagai wartawan sebelum kemudian membawa warga secara paksa. Kisah ini dihadirkan sebagai ajakan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kasus dan isu kemanusiaan yang masih terjadi hingga kini,” jelasnya. (Nayla Putri Kamila)

Bahas Kontribusi Indonesia dalam Resolusi Konflik Global, UIN Jakarta Sukses Gelar Seminar  

Sesi foto bersama jajaran rektorat, Menteri Agama, dan para narasumber dalam Seminar Indonesia’s Contribution to Contemporary Global Peace and Conflict Resolution di Auditorium Harun Nasution. Sumber. Dok. pribadi UIN Jakarta sukses menyelenggarakan seminar bertajuk “Indonesia’s Contribution to Contemporary Global Peace and Conflict Resolution” di Auditorium Harun Nasution, pada Kamis (27/11). Seminar ini membahas kontribusi Indonesia dalam perdamaian global dan dinamika penyelesaian konflik kontemporer, serta menghadirkan tokoh nasional dan internasional, termasuk Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Menteri Luar Negeri Sugiono. Salah satu peserta seminar , Aqilah Qurrotulaini menyampaikan, tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. Ketika berbagai konflik terus terjadi di luar negeri, Indonesia tetap mampu mempertahankan stabilitas dan atmosfer damai, sehingga membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami lebih dalam dinamika konflik global beserta langkah penyelesaiannya. “Sebagai mahasiswa, kita bisa menjadi pelopor dalam mengakui dan menghargai perbedaan suku, agama, ras, dan budaya yang menjadi pondasi awal dalam menjaga perdamaian. Dari lingkungan kampus, sikap toleran dan dialog yang terbuka dapat menjadi kontribusi kecil namun penting bagi terciptanya perdamaian global,” ujarnya.  Menteri Agama, Nasaruddin Umar menjelaskan, kegiatan ini menjadi langkah penting untuk mengartikulasikan berbagai pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait isu geopolitik internasional. Proses tersebut dinilai mendesak, terutama karena sejumlah negara mulai menunjukkan penolakan terhadap gagasan yang disampaikan Presiden. “Dalam konteks inilah UIN Jakarta diposisikan sebagai kampus strategis dalam merumuskan pemikiran produktif yang akan diteruskan kepada Presiden melalui Menteri Luar Negeri. Perguruan tinggi di bawah Kemenag juga diharapkan mampu mencetak cendekiawan, sehingga ilmu yang mereka peroleh dan praktikkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat maupun dunia,” jelasnya. (Mahendra Dewa Asmara)

Siapkan Pendirian Ditjen Pesantren, Kemenag RI-UIN Jakarta Gelar Halaqah

Sesi diskusi bersama pimpinan-pimpinan pondok pesantren tentang pemberdayaan pesantren. Sumber. Dok. Pribadi Pada Kamis (27/11), Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) bersama UIN Jakarta menggelar Halaqah Penguatan Kelembagaan dalam rangka Pendirian Direktorat Jenderal Pesantren Kemenag RI. Acara yang berlangsung di Auditorium Harun Nasution ini mengangkat tema “Pesantren: Ekoteologi dan Kemandirian Ekonomi Umat,” menghadirkan sejumlah tokoh penting untuk membahas isu kemandirian ekonomi dan ekologi, sekaligus merumuskan langkah strategis bagi penguatan peran pesantren di tingkat nasional. Sekretaris Pelaksana Halaqah Penguatan Kelembagaan, Deden Mauli Darajat menjelaskan, pendirian direktorat jenderal baru patut diapresiasi karena mempertegas kehadiran negara dalam mendukung perkembangan pesantren. Pesantren dipandang sebagai sistem pendidikan 24 jam terbaik yang telah hadir jauh sebelum kemerdekaan dan tetap konsisten dalam membentuk karakter masyarakat. “Banyak pesantren sejak lama telah menerapkan prinsip ramah lingkungan atau green pesantren. Karena itu, kampanye green penting untuk diperluas, sebagai ajakan kolektif agar seluruh pihak dapat berkontribusi dalam memperkuat komitmen keberlanjutan dan ekoteologi di lingkungan pesantren,” jelasnya. Salah satu peserta Halaqah Penguatan Kelembagaan, Lola Syaidatul Zulha menyampaikan, isu lingkungan menjadi kebutuhan mendesak, terutama terkait pengelolaan sampah dan limbah air yang masih belum optimal. Kondisi ini memerlukan upaya yang lebih terorganisir agar pesantren mampu menjaga keberlanjutan lingkungan secara konsisten. “Pembentukan mindset bisnis di lingkungan pesantren membutuhkan prinsip yang jelas sebagai sarana pemberdayaan, termasuk struktur organisasi yang tertata. Mengingat fokus utama pesantren adalah pendalaman agama, tantangan duniawi yang dihadapi menuntut adanya pedoman yang kuat agar setiap aktivitas berjalan selaras dengan nilai-nilai pesantren,” ujarnya. (Safia Salsabila Putri)

Kolaborasi Strategis FLAT-IFI, Festival Sinema Prancis 2025 Perkuat Apresiasi Budaya

Penampilan tarian tradisional Prancis dalam Festival Sinema Prancis 2025 FLAT UIN Jakarta. Sumber. Dok. Pribadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Foreign Language Association (FLAT) UIN Jakarta sukses menggelar Festival Sinema Prancis 2025,bekerja sama dengan Institut Francais Indonesia (IFI), pada Kamis (27/11). Acara ini berlangsung di Aula Madya lantai dua dengan menonton bersama film animasi horor berjudul Petit Vampire karya Joann Sfar. Selain itu, penampilan tarian tradisional Prancis juga dipertontonkan guna memperdalam esensi kebudayaan Prancis.  Ketua bidang kebahasaan FLAT UIN Jakarta, Muhammad Alfin Hafidz menjelaskan, tujuan diadakannya acara ini adalah untuk mewadahi mahasiswa yang tertarik dengan bahasa Prancis. Walaupun bentuk kegiatannya hanya berupa pemutaran film, acara tersebut tetap menjadi ruang apresiasi dan pembelajaran bagi mahasiswa melalui penampilan tradisional Prancis. “Kesuksesan acara terlihat dari banyaknya peserta yang hadir, tidak hanya dari anggota FLAT, tetapi juga dari mahasiswa lain yang merasa terwadahi oleh kegiatan ini. Meski demikian, suksesnya acara ini tidak luput dari peran IFI yang telah cukup lama bekerja sama dengan FLAT dalam berbagai acara,“ jelasnya.  Salah satu peserta Festival Sinema Prancis 2025, Muhammad Reziq Hafizh mengungkapkan, acara ini memiliki keunikan tersendiri karena berbeda dari kegiatan kampus pada umumnya. Meskipun kurang menyukai film bergenre kartun, dirinya tetap mengapresiasi sajian yang ditampilkan, terutama karena gaya animasi klasiknya masih dipertahankan dengan baik. “Meski gaya klasik animasinya masih dipertahankan dan alur ceritanya menarik, menurut saya masih ada kekurangan dari animasi ini. Mulai dari referensi karakter yang terasa monoton seperti animasi horor lain, hingga unsur horor yang terlalu berlebihan sehingga kurang cocok untuk kategori film anak,” ungkapnya. (Mahendra Dewa Asmara) 

Kuatkan Sensitivitas Gender dan Perspektif Korban dalam Pemberitaan, JalaStoria Latih Pers Kampus

Penyampaian materi mengenai seks, gender, dan kekerasan seksual oleh Direktur Eksekutif JalaStoria. Sumber. Dok. Pribadi Perkumpulan JalaStoria Indonesia menyelenggarakan pelatihan “Literasi Pers Kampus” di ruang smart class lantai lima Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), dengan fokus memperkuat perspektif korban dan sensitivitas gender dalam pemberitaan. Kegiatan ini membekali jurnalis muda agar lebih cermat meliput isu kekerasan seksual, penghapusan diskriminasi, serta tantangan digitalisasi, sekaligus menegakkan kode etik jurnalistik dan ketentuan dalam UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS). Salah satu peserta pelatihan JalaStoria, Ari Indrawan menuturkan,isu gender harus menjadi fokus utama pemberitaan pers, khususnya pers kampus. Untuk mendapatkan kembali kepercayaan publik, lembaga pers disarankan untuk mencetak kader yang kreatif dan produktif.  “Kualitas ini dapat dibangun melalui perbaikan hal-hal mendasar, seperti menanamkan kedisiplinan dan manajemen waktu yang baik. Islam adalah agama yang tidak patriarkis dan pelakunya tidak selalu laki-laki melainkan kita perlu mengevaluasi, serta memperbaiki satu sama lain,” tuturnya.  Ketua Dewan Pers 2022-2025, Ninik Rahayu menjelaskan, fungsi utama pers adalah mencerdaskan publik dan melakukan investigasi demi kepentingan masyarakat. Jurnalis harus peka terhadap kebutuhan audiens dan tidak mudah terpengaruh berita viral yang belum teruji kebenarannya.  “Selain itu, ada dorongan khusus dari Jalastoria agar pers kampus selalu berpegangan pada 11 kunci dasar jurnalistik. Serta memastikan bahwa setiap berita yang disajikan adalah kebenaran yang berimbang dan menghormati asas praduga tidak bersalah,” ungkapnya.  (Safia Salsabila Putri)

Perkaya Wawasan Global, FDIKOM Gelar International Public Lecture Bersama Rusia Today

Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) serta Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) menggelar International Public Lecture, pada Rabu (26/11). Kegiatan ini menghadirkan Denis Bolotsky dan Fauzan Al-Rasyid dari Russia Today (RT) dengan mengangkat tema “Global News Ecosystems in the Digital Era: Lessons from Russia Today (RT)” sebagai upaya memperkaya wawasan mahasiswa mengenai dinamika ekosistem pemberitaan global di era digital. Persin in Charge (PIC) International Public Lecture, Fad’ly Dwinanda Putra menjelaskan, seminar ini menjadi bentuk kolaborasi strategis untuk memperluas jaringan media bagi mahasiswa Jurnalistik serta KPI. Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa mendapatkan akses yang lebih luas terhadap lembaga media internasional, sehingga mendorong munculnya kajian kritis mengenai dinamika pemberitaan global dan tantangan yang muncul dalam ekosistem media digital. “Seminar ini dirancang sebagai ruang pembelajaran agar mahasiswa mampu memahami struktur kerja media global secara lebih komprehensif. Selain itu, kegiatan ini juga membantu memetakan pola hubungan antara lembaga pers dan berbagai pihak internasional, sehingga mahasiswa dapat melihat bagaimana proses produksi berita global terbentuk dan berpengaruh terhadap praktik jurnalistik di era modern,” jelasnya. Salah satu peserta seminar internasional, Nararayya Btari Anya Gunawan menyampaikan, kegiatan tersebut menghadirkan narasumber profesional dari berbagai bidang, termasuk praktisi media internasional yang memberikan penjelasan mendalam mengenai proses kerja jurnalistik. RT dinilai mampu menyajikan pemberitaan dengan pendekatan yang lebih netral, sehingga fungsi penyampaian informasi dapat berjalan efektif melalui berbagai platform. “Materi yang dibawakan para pemateri membuka sudut pandang baru tentang dinamika kerja media global dan karakter lembaga pers internasional. Penjelasan ini membantu mahasiswa memahami bagaimana praktik jurnalistik dijalankan di tingkat global, sekaligus memperkaya wawasan mengenai standar profesionalisme dan tantangan dalam produksi berita internasional,” ujarnya. (Maura Maharani Rizky)

Dukung Visi Green Campus, UIN Jakarta Wajibkan Kartu Parkir Elektronik Mulai Januari 2026

Tata cara pendataan pengguna kendara di UIN Jakarta. Sumber. Dok. Pribadi UIN Jakarta akan memberlakukan kartu parkir wajib bagi seluruh sivitas akademik mulai Januari 2026 sebagai bagian dari penataan sistem parkir dan upaya menuju Green Campus. Pendataan pengguna kendaraan dilakukan melalui tautan verifikasi yang tersedia hingga 30 November 2025. Kebijakan ini diharapkan membantu menciptakan area parkir yang lebih tertib sekaligus mendukung pengelolaan mobilitas kampus secara berkelanjutan. Salah satu petuga parkir UIN Jakarta, Restu Erlangga menjelaskan, sistem parkir berbasis kartu akan diterapkan bagi seluruh civitas akademik dan mahasiswa. Kebijakan ini dirancang untuk mendukung lingkungan kampus yang lebih bersih dengan mengurangi penggunaan kertas dan plastik, sekaligus meningkatkan kenyamanan serta efisiensi bagi pengguna layanan parkir. “Perpindahan dari karcis menuju kartu menjadi langkah praktis yang mempermudah proses keluar masuk kendaraan. Mahasiswa dan seluruh sivitas akademik diharapkan dapat menggunakan kartu parkir secara bijak dan mematuhi aturan yang mulai diberlakukan pada awal Januari 2026,” jelasnya. Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FITK), jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) semester lima, Riastuti Dwiyanti mengungkapkan, ajakan penggunaan kartu parkir dibuat untuk mendukung tercapainya Green Campus melalui pengurangan kertas dan sampah plastik. Kebijakan yang tertib dianggap penting agar pemakaian kartu lebih bijak, sehingga risiko kartu hilang atau rusak dapat ditekan. “Kebijakan ini idealnya diterapkan dalam jangka panjang agar manfaatnya lebih maksimal. Pihak kampus juga diharapkan menyediakan panduan yang jelas terkait penggunaan kartu, sehingga tidak terjadi kesalahan dan seluruh sivitas akademik dapat beradaptasi dengan lebih mudah,” ungkapnya. (Maura Maharani Rizy)

Tinjau Kerusuhan Mei 1998, Bedah Cinema HMPS KPI Dorong Kesadaran Generasi Muda Peduli Isu Sosial

Berlangsungnya Forum Bedah Cinema HMPS KPI. Sumber. Dok. Pribadi Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (HMPS KPI) melalui Divisi Komunikasi dan Informasi (Kominfo) menggelar Forum Bedah Cinema bertajuk “Pengepungan di Bukit Duri” pada Rabu (26/11), di Teater Prof. H. Aqib Suminto, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM). Kegiatan ini dirancang untuk memperluas pemahaman mahasiswa sekaligus membuka ruang diskusi kritis terkait isu sosial dan pendidikan yang masih menjadi tantangan di Indonesia. Ketua Pelaksana Forum Bedah Cinema, Muhammad Sulthan Bulqia menjelaskan, penyelenggaraan acara ini dirancang untuk melatih mahasiswa membaca dan memahami realitas sosial secara lebih kritis. Fokus utama kegiatan mencakup isu diskriminasi etnis, ketimpangan sistem pendidikan, serta trauma sejarah Indonesia yang diangkat melalui kisah kerusuhan Mei 1998, sehingga peserta dapat melihat relevansinya dengan kondisi masyarakat masa kini. “Antusiasme peserta terlihat sejak sesi pemutaran film hingga forum berlangsung. Mereka tidak hanya menonton, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi yang membahas berbagai fenomena sosial yang muncul dalam film dan bagaimana dinamika tersebut masih tercermin dalam kehidupan kontemporer,” jelasnya. Salah satu peserta Forum Bedah Cinema, Ghaitsa Zahira Shofa mengungkapkan, kegiatan ini menyimpan banyak pesan penting, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu sosial seperti diskriminasi dan kekerasan. Selain itu, acara ini juga bertujuan menginspirasi generasi muda untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dan berperan aktif dalam menciptakan perubahan positif. “Melalui kegiatan sederhana seperti diskusi dan kampanye edukasi di lingkungan sekitar, diharapkan masyarakat dapat diajak menolak rasisme serta kekerasan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini mendorong partisipasi aktif dan kesadaran kolektif sehingga nilai-nilai toleransi dan keadilan sosial dapat lebih mudah diterapkan di tengah komunitas,” ungkapnya. (Yuzka Al-Mala)

Pahami Peran Strategis Legislatif untuk Kontrol Sosial, SEMAF FDIKOM Gelar Bincang Legislatif Vol. 4 

Berlangsungnya sesi diskusi dengan pemateri, sebagai salah satu rangakaian acara dalam Bincang Legislatif Vol. 4. Sumber. Do. Pribadi Senat Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (SEMAF FDIKOM) menggelar Bincang Legislatif Vol. 4 bertajuk “Memahami Peran Legislatif secara Kritis sebagai Upaya Mahasiswa Mengawal Kepentingan Publik: Smart Talk, Smart Rules” pada Selasa kemarin di Teater Prof. H. Aqib Suminto FFIKOM. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam kepada mahasiswa mengenai peran strategis lembaga legislatif dalam proses penyusunan kebijakan publik. Ketua Pelaksana, Muhammad Faiz Ahsan menjelaskan, diskusi kritis perlu terus dibangun sebagai upaya memahami praktik berdemokrasi yang adil, transparan, dan bebas dari kecacatan. Sebagai agen perubahan dan kontrol sosial, mahasiswa memiliki peran penting dalam menyuarakan kepentingan publik. Dengan kapasitas intelektual dan kemampuan akademik yang dimiliki, mahasiswa diharapkan mampu mewakili kelompok yang belum memperoleh akses pendidikan maupun ruang intelektual yang memadai. “Mahasiswa juga didorong untuk terus berani bersuara, mengkritisi, dan mendorong lahirnya perubahan demi masa depan yang lebih baik bagi generasi berikutnya. Yang paling utama adalah memastikan bahwa setiap proses dan keputusan politik benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat luas, sehingga tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu,” jelasnya. Salah satu pengunjung, Mahardhika Falah Afamdi menyampaikan, mahasiswa saat ini mulai menunjukkan kepedulian dan kepekaan terhadap dinamika politik, baik di lingkungan kampus maupun pada tingkat nasional. Peran mahasiswa dipandang strategis karena berada pada posisi yang mampu memengaruhi arah kebijakan politik yang dijalankan. Kesadaran ini menjadi kontribusi penting agar mahasiswa memahami bahwa politik merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari dan tidak dapat dipisahkan dari aktivitas sosial, termasuk dalam konteks legislasi. “Untuk memperluas wawasan, mahasiswa disarankan memanfaatkan waktu luang dengan mengikuti seminar atau diskusi bertema politik. Melalui kegiatan tersebut, pemahaman mahasiswa terhadap proses politik dapat berkembang secara lebih mendalam dan komprehensif, sehingga peran mereka sebagai generasi kritis dapat terwujud dengan lebih optimal,” ujarnya. (Nadine Fadila Azka)