
Arda Carolina, peraih juara satu lomba pencak silat tingkat nasional. Sumber. Dok. Pribadi
Arda Carolina merupakan mahasiswi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), semester tiga. Melalui kerja keras dan konsistensi latihan, Arda berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara 1 pencak silat tingkat nasional. Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi Arda secara pribadi, tetapi juga bagi fakultas dan kampus yang ia wakili.
Arda menuturkan, momen saat dinyatakan sebagai Juara 1 menjadi pengalaman emosional yang sulit dilupakan. Perasaan bahagia, bangga, dan bersyukur bercampur menjadi satu, mengingat proses panjang yang telah ia jalani.
“Pada saat diumumkan sebagai juara, perasaan yang saya rasakan sangat campur aduk. Awalnya saya tidak menyangka dapat mencapai titik tersebut. Namun, ketika nama saya diumumkan, seluruh proses panjang yang telah dijalani langsung terlintas. Saya merasa sangat bahagia, bangga, dan bersyukur karena usaha yang dilakukan selama ini akhirnya terbayar, sekaligus dapat membawa nama baik kampus,” ujarnya.
Perjalanan Arda menuju podium tertinggi tidak berjalan mudah. Ia harus menjalani latihan hampir setiap hari, bahkan dari pagi hingga sore, sambil tetap membagi waktu dengan kegiatan perkuliahan. Tantangan terberat yang dihadapi bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga rasa lelah dan keraguan terhadap diri sendiri. Arda juga sempat mengalami cedera, namun memilih untuk bangkit dan terus melanjutkan proses latihan.
“Tantangan terbesar bagi saya adalah melawan rasa lelah dan keraguan terhadap diri sendiri. Saya juga sempat mengalami cedera, tetapi secara perlahan berusaha bangkit kembali. Menurut saya, kunci utama dari seluruh proses ini adalah konsistensi,” ungkapnya.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Arda menyebut kampus, pelatih, keluarga, dan teman-temannya memiliki peran besar dalam perjalanannya di dunia pencak silat. Dukungan fasilitas dan perizinan dari kampus, bimbingan pelatih yang telah membersamai proses latihan, serta dukungan moral dari keluarga dan rekan-rekan menjadi kekuatan utama saat dirinya berada di titik terendah.
Apresiasi yang diberikan FDIKOM menjadi momen yang sangat berarti bagi Arda. Ia mengaku merasa terharu karena perjuangan panjang yang dijalaninya mendapatkan pengakuan dari fakultas. Selain dukungan moral, fakultas juga memberikan tas dan sertifikat penghargaan sebagai bentuk apresiasi.
“Bagi saya, apresiasi tersebut memiliki makna yang sangat besar. Meskipun terlihat sederhana, penghargaan ini menjadi bukti bahwa seluruh proses, kerja keras, dan perjuangan yang telah saya lalui benar-benar diperhatikan dan dihargai. Hal tersebut menjadi motivasi bagi saya untuk terus berprestasi dan membawa nama baik fakultas serta kampus,” tuturnya.
Ke depan, Arda berkomitmen untuk terus mengembangkan kemampuannya di bidang pencak silat tanpa mengesampingkan tanggung jawab akademik. Ia berharap prestasi yang diraihnya dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk berani mengembangkan potensi diri.
Di akhir perbincangan, Arda menyampaikan pesan kepada mahasiswa agar tidak ragu mencoba dan mengambil kesempatan. “Jangan menunggu hingga merasa siap untuk memulai. Jalani setiap proses dengan sungguh-sungguh, tetap konsisten, dan jangan takut menghadapi kegagalan. Yang terpenting adalah memiliki kemauan serta keberanian untuk keluar dari zona nyaman, karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama,” pesannya.
(Fayruz Zalfa Zahira)





