
Cuaca pancaroba memicu penyebaran virus berbasis lingkungan. Sumber. era.id
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan tentang meningkatnya potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia selama masa pancaroba, yang berisiko memicu penyebaran virus serta penyakit berbasis lingkungan. Peringatan ini disampaikan sebagai respons atas perubahan pola angin dan intensitas hujan yang semakin tidak menentu dalam beberapa pekan terakhir.
Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST), jurusan Teknik Informatika (TI), semester tiga, Nabila Nayla Husna menyampaikan, cuaca ekstrem berdampak pada penurunan kondisi kesehatan yang berakibat pada menurunnya produktivitas. Aktivitas akademik maupun organisasi yang seharusnya berjalan optimal menjadi terhambat karena tubuh tidak berada dalam kondisi yang stabil.
“Dalam situasi ini, mahasiswa memiliki peran strategis dalam menyebarkan pengetahuan terkait lingkungan dengan mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan sekitar. Upaya menjaga lingkungan tetap bersih menjadi semakin mendesak di tengah intensitas hujan tinggi dan potensi banjir, sehingga pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), jurusan Ilmu Keperawatan, semester tiga, Syifani Rahmah menuturkan, masyarakat perlu menyesuaikan perlengkapan dengan kondisi cuaca, misalnya membawa payung atau jas hujan saat musim hujan serta menggunakan sunscreen atau topi ketika cuaca panas. Pola hidup sehat juga menjadi kunci, mencakup tidur cukup, konsumsi makanan bergizi, dan menjaga hidrasi agar daya tahan tubuh tetap kuat. Kebiasaan menjaga kebersihan diri, terutama mencuci tangan secara rutin, dapat membantu mencegah penyakit yang rentan muncul akibat perubahan cuaca.
“Penerapan contoh perilaku sehat, kolaborasi dengan puskesmas, hingga pelaksanaan kampanye kesehatan atau kegiatan olahraga bersama dinilai mampu meningkatkan kesadaran masyarakat. Penyampaian informasi yang jelas mengenai keterkaitan cuaca ekstrem dengan penurunan imunitas, ditambah dukungan tokoh masyarakat melalui workshop maupun layanan cek kesehatan gratis, semakin memperkuat upaya pencegahan penyakit di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu,” tuturnya.
(Nadine Fadila Azka)





