
Hari Radio Nasional 2025. Sumber. kemenparekraf.go.id
Pada Kamis (11/9), bertepatan dengan peringatan Hari Radio Nasional, Generasi Z (Gen Z) menilai radio semakin kehilangan relevansi di tengah gempuran teknologi digital. Kehadiran gawai pintar, layanan streaming, dan beragam platform daring membuat anak muda lebih memilih akses hiburan serta informasi secara praktis dibanding mendengarkan siaran radio konvensional.
Mahasiswa Falultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), semester tiga, Ahmad Fadli mengatakan, Seiring berkembangnya teknologi, eksistensi radio di kalangan generasi Z dinilai mulai mengalami penurunan. Mayoritas anak muda kini lebih banyak mengakses informasi melalui gawai dan platform digital yang dianggap lebih praktis dan cepat.
“Relevansi radio bagi anak-anak Gen Z itu sudah mulai memudar karena adanya pembaruan teknologi seperti gadget. Mereka tidak lagi harus mendengarkan radio untuk memperoleh informasi. Apalagi sekarang kan ada pilihan lain seperti streaming, Spotify, atau platform digital yang jauh lebih mudah diakses,” ujarnya.
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), prodi Perbandingan Mazhab (PMH), semester tiga, Leni Darti mengungkapkan, Bagi generasi Z, keberadaan radio saat ini sering kali dianggap ketinggalan zaman karena sebagian besar anak muda lebih memilih mengakses informasi melalui media sosial yang dinilai lebih praktis. Meski begitu, radio tetap memiliki peran penting sebagai salah satu media informasi yang pernah berjaya pada masanya.
“Kalau bicara eksistensi radio, sebenarnya bukan hanya soal kuno atau tidak. Justru radio itu dari dulu sangat berpengaruh untuk menyebarkan informasi. Hanya saja, sekarang perlu ada upaya dua arah, baik dari pendengarnya yang harus lebih aware, maupun dari pihak radio yang harus menyesuaikan dengan kebutuhan generasi muda, misalnya lewat konten yang lebih fresh atau aplikasi yang mudah dijangkau,” ungkapnya.
(Fayruz Zalfa Zahira)








