
China dorong integrasi AI dalam sektor energi hijau. Sumber. trt.global
Pemerintah China mengumumkan rencana integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam sektor energi, pada Selasa (10/9) sebagai upaya mendorong transisi menuju energi hijau. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, serta mendukung pengembangan teknologi ramah lingkungan dengan implementasi bertahap dan pengawasan ketat.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Jurnalistik semester tiga, Muhammad Rafli Ramadhan menyampaikan, penggunaan Artificial Intelligence (AI) menimbulkan pro dan kontra karena berpotensi menghambat proses pertumbuhan mahasiswa. Meski begitu, perkembangan AI di bidang energi dinilai mampu mendukung berbagai aktivitas asalkan penggunaannya dikontrol dan dimanfaatkan secara optimal agar sifat alami kehidupan manusia tetap terjaga.
“Pemanfaatan AI sebaiknya dilakukan secara bijak agar manusia tidak kehilangan kemampuan alaminya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini juga dianggap penting untuk memastikan perkembangan teknologi tetap selaras dengan kebutuhan manusia,” ujarnya.
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), jurusan Ilmu Hukum (IH), semester tujuh, Mutia Dara mengungkapkan, penggunaan AI di bidang energi memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Teknologi ini dapat diterapkan di berbagai sektor dan mendukung aktivitas manusia, mulai dari peningkatan efisiensi kerja hingga optimalisasi sumber daya. Meski demikian, pemanfaatannya dinilai perlu dibatasi agar tetap memberikan ruang bagi kemampuan manusia secara alami.
“Ketergantungan berlebihan pada AI berpotensi membuat manusia kehilangan inisiatif, terutama jika teknologi tersebut terus berkembang dan semakin mudah diakses. Oleh karena itu, penggunaan AI sebaiknya diarahkan secara bijak agar perkembangan teknologi tetap seimbang dengan peran dan kemampuan manusia,” ungkapnya.
(Maura Maharani Rizky)





