107.9 RDKFM

Langkah Revolusioner China: AI Jadi Kunci Pengembangan Energi Hijau

China dorong integrasi AI dalam sektor energi hijau. Sumber. trt.global Pemerintah China mengumumkan rencana integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam sektor energi, pada Selasa (10/9) sebagai upaya mendorong transisi menuju energi hijau. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, serta mendukung pengembangan teknologi ramah lingkungan dengan implementasi bertahap dan pengawasan ketat. Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Jurnalistik semester tiga, Muhammad Rafli Ramadhan menyampaikan, penggunaan Artificial Intelligence (AI) menimbulkan pro dan kontra karena berpotensi menghambat proses pertumbuhan mahasiswa. Meski begitu, perkembangan AI di bidang energi dinilai mampu mendukung berbagai aktivitas asalkan penggunaannya dikontrol dan dimanfaatkan secara optimal agar sifat alami kehidupan manusia tetap terjaga. “Pemanfaatan AI sebaiknya dilakukan secara bijak agar manusia tidak kehilangan kemampuan alaminya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini juga dianggap penting untuk memastikan perkembangan teknologi tetap selaras dengan kebutuhan manusia,” ujarnya. Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), jurusan Ilmu Hukum (IH), semester tujuh, Mutia Dara mengungkapkan, penggunaan AI  di bidang energi memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Teknologi ini dapat diterapkan di berbagai sektor dan mendukung aktivitas manusia, mulai dari peningkatan efisiensi kerja hingga optimalisasi sumber daya. Meski demikian, pemanfaatannya dinilai perlu dibatasi agar tetap memberikan ruang bagi kemampuan manusia secara alami. “Ketergantungan berlebihan pada AI berpotensi membuat manusia kehilangan inisiatif, terutama jika teknologi tersebut terus berkembang dan semakin mudah diakses. Oleh karena itu, penggunaan AI sebaiknya diarahkan secara bijak agar perkembangan teknologi tetap seimbang dengan peran dan kemampuan manusia,” ungkapnya. (Maura Maharani Rizky)

Khawatirkan Ketergantungan Asing, Rencana PLTS dengan China Tuai Sorotan

Salah satu pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di negara China. Sumber. esgnow.republika.co.id Kerja sama Indonesia dan China dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt pada 2025 menuai sorotan mahasiswa. Proyek ini dinilai berpotensi menimbulkan ketergantungan pada teknologi dan pasokan komponen luar negeri sehingga diperlukan strategi khusus untuk menjaga kedaulatan energi nasional. Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Program Studi (Prodi) Kesejahteraan Sosial (Kessos) semester lima, Nur Istibsyaroh menuturkan, pemerintah perlu memastikan proyek PLTS berkapasitas 100 gigawatt berjalan sesuai koridor sekaligus melibatkan sumber daya manusia dalam negeri. Indonesia dinilai memiliki banyak generasi muda berkeahlian yang sering terabaikan akibat dominasi pihak asing, sehingga kesadaran masyarakat untuk mengawasi jalannya proyek penting agar manfaatnya mencakup transfer pengetahuan dan peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal. “Tingginya angka pengangguran seharusnya menjadi pertimbangan dalam perencanaan. Karena itu, program strategis nasional diharapkan memprioritaskan pemberdayaan generasi muda dan penciptaan lapangan kerja, sebab pelibatan tenaga lokal lebih berdampak langsung bagi perekonomian dibanding terus bergantung pada mitra asing,” tuturnya. Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), prodi Hukum Tata Negara (HTN), semester empat, Rikza Anung Anindita mengatakan, pemerintah perlu memastikan pembangunan PLTS 100 gigawatt tidak hanya berjalan sesuai koridor, tetapi juga melibatkan sumber daya manusia dalam negeri secara optimal. Kesadaran politik masyarakat dinilai penting untuk mengawasi jalannya proyek agar manfaatnya tidak terbatas pada infrastruktur, melainkan juga mencakup transfer pengetahuan serta peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal. “Tingginya angka pengangguran harus menjadi fokus dalam perencanaan. Karena itu, program strategis nasional diharapkan memberi prioritas pada pemberdayaan generasi muda dan penciptaan lapangan kerja, sebab pelibatan tenaga lokal dinilai lebih relevan sekaligus memberi dampak nyata bagi perekonomian dibanding terus mengandalkan mitra asing dalam pembangunan energi,” ucapnya. (Fayruz Zalfa Zahira)