
Berlangsungnya acara FOLKS 2025 pada Sabtu (17/1), di Teater Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan. Sumber. Official Instagram FPCIFOLKS
Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Chapter UIN Jakarta menggelar kegiatan FOLKS 2025 bertajuk “Global Commitments, Local Realities: Gender-Based Violence in Foreign Policy and International Cooperation” pada Sabtu (17/1), di Teater Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan. Acara tersebut membahas komitmen global serta implementasi nyata dalam penanganan kekerasan berbasis gender, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif terhadap pentingnya keadilan gender.
Project Officer FOLKS 2025, Imanova Yasmina Aulia menjelaskan, gender-based violence adalah salah satu bentuk kekerasan yang dapat dialami oleh siapa pun, tidak hanya perempuan, tetapi juga laki-laki. Menurutnya, gender-based violence tidak terbatas pada kekerasan verbal, melainkan juga mencakup praktik dan pola yang telah mengakar di masyarakat, seperti budaya patriarki.
“Gender-based violence merupakan persoalan yang telah mengakar di masyarakat sehingga pola dan penanganannya perlu disosialisasikan secara luas. Saya berharap, masyarakat khususnya audiens yang mengikuti kegiatan FOLKS 2025, semakin peka dan kritis terhadap upaya perlindungan dari kekerasan berbasis gender,” jelasnya.
Salah satu peserta FOLKS 2025, Rafa Adika Pasha mengungkapkan, penyelenggaraan FOLKS 2025 memberikan pemahaman penting mengenai urgensi menghadirkan ruang aman bagi masyarakat. Acara tersebut dinilai dapat menjadi wadah dalam membangun empati serta menjembatani edukasi dengan aksi nyata dalam upaya pencegahan kekerasan berbasis gender.
“Karena gender-based violence dapat menimpa gender manapun, langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk menguranginya adalah dengan menghentikan candaan, komentar, maupun stereotip yang merendahkan gender tertentu,” ungkapnya.
(Mahendra Dewa Asmara)





