Rangkul Gen Z di Era Digital, Kemenag Fokus Bangun Ekosistem Dakwah Kreatif

Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas), Abdu Rokhmad fokuskan penguatan dakwah kreatif. Sumber. pkbtalk24.com


Kementerian Agama (Kemenag) kini berfokus pada penguatan ekosistem dakwah kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman, khususnya bagi Generasi Z yang tumbuh di tengah derasnya arus digital dan budaya populer. Upaya ini dilakukan dengan memberdayakan anak muda untuk berkarya sekaligus menyebarkan nilai-nilai kebaikan, toleransi, dan kemanusiaan sebagai wajah baru dakwah Islam Indonesia. Melalui langkah tersebut, Kemenag berkomitmen menjaga generasi muda agar tetap berada dalam orbit keagamaan yang sehat, moderat, dan progresif.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), semester sembilan, Hajar Aryani menuturkan, arah dan fokus konten dakwah sepenuhnya bergantung pada keputusan kreatif pembuatnya sebelum disebarkan ke publik. Namun, konten yang memiliki nilai edukatif akan lebih bermakna karena mampu menjadi sarana efektif dalam menyampaikan pesan dakwah yang membangun dan inspiratif.

“Konten dakwah yang dikemas secara kreatif dengan sentuhan hiburan lebih menarik bagi generasi muda sebagai penonton utama di era digital. Pemanfaatan fasilitas yang telah disediakan kampus, seperti jaringan Wi-Fi yang memadai, menjadi peluang besar untuk terus memproduksi konten dakwah yang edukatif, menghibur, dan berkualitas tinggi,” tuturnya.

Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), jurusan Perbandingan Mazhab (PMH), semester tiga, Ikhsan Nurtaufiq menyampaikan, metode ceramah masih relevan untuk diterapkan, namun perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Pemanfaatan media sosial menjadi sarana penting dalam memperluas jangkauan dakwah, sebagai wujud integritas Islam yang terbuka terhadap pembaharuan dan kemajuan teknologi, sejalan dengan makna fiqh yang mencerminkan semangat pembaruan dalam memahami ajaran agama.

“Generasi muda perlu bersikap bijak dalam menerima informasi keagamaan, terutama dengan memastikan kebenaran isi ceramah dari sumber yang utuh. Sikap kritis terhadap potongan video atau klip yang beredar menjadi bagian dari tanggung jawab moral untuk menjaga dakwah tetap autentik dan sesuai dengan nilai-nilai Islam di era digital,” ujarnya.

(Safia Salsabila Putri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *