
Bijak bersosmed menjadi kunci untuk menghindari distrosi realita digital. Sumber. tribunnews.com
Di tengah masifnya penggunaan media sosial di kalangan generasi muda, kesadaran untuk bersikap bijak dalam menyikapi arus informasi menjadi hal yang semakin penting. Psikolog Universitas Indonesia (UI), Vera Itabiliana, menegaskan bahwa pembatasan penggunaan gawai saja tidak cukup untuk mencegah dampak negatif media sosial pada remaja, sehingga mahasiswa diharapkan mampu memahami dan menyikapi algoritma media sosial secara kritis dan bertanggung jawab.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Illmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Kesejahteraan Sosial (Kessos) semester tiga, Haura Hasna Vanriani menuturkan, di era digital yang dianggap sudah lebih canggih sekarang, hal tersebut menimbulkan beberapa tuaian pro maupun kontra. Mahasiswa dapat melakukan beberapa tindakan bijak seperti menonton video yang positif sehingga algoritma sosial media yang digunakan lebih banyak menampilkan hal – hal yang positif dan mengurangi adanya tontonan video negatif.
“Algoritma sosial media memang disesuaikan oleh penggunanya, tetapi hal ini dapat diatur oleh beberapa video yang ditontonnya. Maka dari itu, dengan banyak menonton video atau kata – kata yang sedih akan menimbulkan perasaan yang sedih juga bagi penontonnya karena sangat berpengaruh untuk terbawa perasaan,” tuturnya.
Mahasiswa Fakultas Ushuluddin (FU), jurusan Ilmu Al-qur’an dan Tafsir (IAT), semester tiga, Zikra El – Hafidh mengungkapkan, perhatian masyarakat terhadap algoritma media sosial dinilai lebih relevan dibandingkan sekadar membatasi penggunaan gawai, mengingat perangkat digital telah menjadi bagian dari kehidupan generasi saat ini. Tidak sedikit masyarakat yang jarang menggunakan gadget, namun konten yang dikonsumsi justru didominasi oleh video bernuansa negatif dibandingkan tayangan positif yang memberikan nilai edukatif dan masukan konstruktif bagi kehidupan sosial.
“Semoga masyarakat tidak mudah terdistraksi antara kehidupan nyata dan kehidupan di media sosial, mengingat banyak anak muda yang lebih sibuk membangun citra positif di ruang digital, namun hal tersebut tidak selalu tercermin dalam perilaku sehari-hari di lingkungan sekitar. Selain itu, penting untuk mengurangi fear of missing out (FOMO) yang berlebihan agar tidak menyamakan standar kehidupan setiap individu,” ungkapnya.
(Nayla Putri Kamila)





