
Muhammad Dzaky Rahullah Al-Ghazi Abdullah, perintis PT Anupra Agri Nusantara. Sumber. Dok. Pribadi
Muhammad Dzaky Rahullah Al-Ghazi Abdullah, atau yang akrab disapa Dzaky, adalah mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Program Studi (Prodi) Teknik Informatika (TI) UIN Jakarta yang berbagi kisah inspiratif tentang perjalanan dan dedikasinya membangun perusahaan rintisan di bidang poultry bernama PT Anupra Agri Nusantara (Chickup). Lahir di Surakarta pada 14 Oktober 2004 dan kini berdomisili di Depok, Jawa Barat, ia menekuni sektor yang jarang diminati generasi muda.
Motivasi utamanya dalam mendirikan dan memimpin Chickup adalah keinginan menghidupkan kembali industri komoditas unggas. Baginya, pilihan ini bukan kebetulan, melainkan panggilan untuk memberi dampak nyata bagi kebutuhan dasar masyarakat Indonesia. Selain itu, ia ingin menghadirkan perspektif baru bahwa industri perunggasan tidak harus identik dengan cara kerja tradisional. Dzaky berharap generasi muda bisa melihat bahwa sektor ini dapat dikelola secara modern, mengikuti perkembangan zaman yang semakin cepat.
“Lonjakan permintaan terhadap protein unggas dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan betapa pentingnya sektor perunggasan. Kenaikan kebutuhan ini juga didorong oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang membuat konsumsi ayam dan produk unggas melonjak signifikan. Kondisi tersebut menjadi bukti bahwa industri ayam masih memegang peranan penting dalam pemenuhan pangan masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Seperti banyak organisasi atau bisnis lain, perjalanan Dzaky membangun Chickup tidak selalu mulus. Tantangan terbesar datang dari dinamika lapangan yang sulit diprediksi, mulai dari fluktuasi harga ayam, tingginya biaya pakan, hingga kompetisi harga antar pelaku usaha. Ia mengatasinya dengan memperkuat kemitraan bersama peternak lokal untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.
Selain itu, Dzaky menekankan pentingnya kualitas serta pengalaman pelanggan untuk membangun kepercayaan konsumen. Strategi inilah yang membuat Chickup mampu bertahan di tengah kompetisi yang ketat.
Dari seluruh perjalanan yang ia jalani, momen ketika Chickup pertama kali dibangun menjadi bagian yang paling berkesan. Dzaky menggambarkan masa itu sebagai periode penuh dinamika emosional. Pada saat pasar terpuruk dan harga ayam anjlok jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP), banyak pelaku usaha dan peternak menghadapi tekanan finansial yang berat. Dari situ, tekad untuk menghadirkan solusi muncul dan menjadi langkah awal berdirinya Chickup.
“Oleh karena itu masa depan perekonomian Indonesia bergantung pada langkah kita sebagai generasi muda. Penting bagi setiap individu untuk berkembang dan menjadi versi terbaik dari dirinya di bidang masing-masing. Investasi paling berharga bukanlah harta atau barang, melainkan kemampuan diri, ilmu pengetahuan, dan dampak nyata yang bisa diberikan untuk orang lain,” pungkasnya.
(Yuzka Al-Mala)






Saya setuju dengan gagasan dan jargon anda terkait “Investasi paling berharga bukanlah harta atau barang, melainkan kemampuan diri, ilmu pengetahuan, dan dampak nyata yang bisa diberikan untuk orang lain” karena generasi muda dituntut filosofi “pemuda bukan sekedar pewaris melainkan perintis” menuju dimensi masa dimana pemuda dihamparkan jalur sutera nusantara raya untuk menjadi pemuda yang berkomitmen : “apa yang bisa saya berikan kepada negara, bukan apa yang bisa saya ambil dari negara” karena banyak pemuda yang berkomitmen sebaliknya.