
Najwa Nur Fadhillah dengan piala penghargaan juara satu Lomba Debat Islami. Sumber. Dok. Pribadi
Debat sering kali identik dengan latar belakang fakultas atau jurusan hukum, namun pernyataan tersebut dipatahkan oleh mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Najwa Nur Fadhillah, akrab dipanggil Dila, yang dengan persiapan singkat, berhasil meraih juara satu Lomba Debat Islami.
“Aku sangat terinspirasi sama Najwa Shihab, karena aku pernah berpikir hal receh kalo nama kita sama-sama ‘Najwa’, jadi aku berharap bisa kayak Najwa Shihab yang pintar berbicara di depan umum, sering memperdebatkan isu tentang pemerintah dan cara penyampaiannya membuat aku mulai mengikuti jejaknya sedikit demi sedikit,” jelasnya.
Dila tertarik untuk mencoba debat dan mulai membentuk tim. Namun situasi yang mendadak menimbulkan tantangan tersendiri, Dila merupakan pendatang baru yang belum memiliki pengalaman dalam ajang berdebat. Sehingga menimbulkan perasaan pesimis dan kekhawatiran menjadi beban dalam tim, meski begitu ia memiliki tim yang supportif.
“Sulitnya melawan rasa pesimis didalam diri aku, karena kita latihan lomba h-2 dan perbedaan latar belakang kita. Dalam satu tim, dua orang kuliah di UIN Jakarta, dan satu orang berkuliah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta. Ini menjadi salah satu faktor penghambat kami, tapi kami masih berusaha mencari waktu luang yang ternyata mendekati perlombaan,” ujarnya.
Dalam berdebat, elemen dasar yang harus dimiliki seorang pendebat adalah keberanian. Sedangkan, penguasaan materi dan penyusunan argumen akan mengikuti setelah seseorang berani mengambil langkah pertama untuk tampil di publik. Pengalaman mengikuti lomba debat ternyata berdampak pada kehidupan Dila, mengubah pola pikirnya lebih kritis dan objektif terhadap informasi yang beredar.
“Rasa takut yang ada dalam diri kita memang tidak bisa dihilangkan, tapi rasa takut bisa kita ubah dengan menanamkan pola pikir salah dalam berbicara didepan umum itu manusiawi. Sehingga yang terpenting, kita harus mau memulai dan mencoba sesuatu kalau sudah dipaksakan nantinya akan terbiasa dalam melakukan,” ungkapnya.
(Shakila Najla Azzahra Ramadhani)






