
Potret Ade Kamilah meraih Duta GenRe ditengah kesibukan kuliahnya. Sumber. Dok. Pribadi
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI), akrab disapa Ade Kamilah, meraih selempang Duta GenRe yang ia sandang bukan sekadar simbol prestasi, melainkan pengingat akan perjalanan panjang melawan keraguan diri dan tantangan hidup untuk terus bertumbuh.
“Jujur, saya sempat merasa minder dan hampir dua kali mengundurkan diri saat audisi finalis karena merasa tidak pantas dibandingkan peserta lain. Namun, saya akhirnya sadar bahwa menjadi Duta GenRe adalah bonus, sedangkan kesempatan belajar dan terjun langsung dalam penyuluhan remaja di PIK-R adalah hal yang jauh lebih berharga,” ungkapnya.
Melalui perannya sebagai duta, Ade fokus memberikan edukasi mengenai isu-isu seperti pernikahan dini, penyalahgunaan napza, hingga kekerasan seksual kepada siswa dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Eesensi menjadi seorang duta bukan sekadar mahir menyampaikan materi, melainkan hadir sebagai sosok pendengar dan teman yang memahami keresahan remaja dalam mempersiapkan masa depan mereka.
“Di tengah krisis ekonomi yang sempat membuat saya berpikir untuk menikah muda dan mengubur cita-cita, mengenal GenRe justru membuka mata saya bahwa hidup sebelum pernikahan sangat perlu direncanakan dengan matang. Pengalaman pribadi sebagai penyintas child grooming di masa kecil juga semakin menguatkan tekad saya, agar tidak ada lagi remaja yang terjebak dalam situasi serupa akibat minimnya edukasi,” jelasnya.
Ade menekankan bahwa setiap proses kegagalan adalah pelajaran berharga yang jauh lebih baik daripada tidak mencoba sama sekali. Baginya, menjadi sosok inspiratif tidak menuntut kesempurnaan, melainkan keberanian untuk memperbaiki diri secara perlahan, karena berdikari memberi kekuatan untuk melangkah dan bermanfaat memberi alasan untuk terus bertumbuh, maka jadilah keduanya.
(Muhammad Raffa Al Farezzy)





