Solusi Biodisel B50, Kurangi Impor dan Tekan Emisi Karbon

Pembaharuan BBM B50 yang akan segera dirilis pada (1/7). sumber. kompas.com


Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengumumkan peluncuran bahan bakar nabati jenis biodiesel B50, yang akan tersedia bagi masyarakat luas, pada Sabtu (1/7). Sebagai upaya pemerintah menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil, campuran bahan bakar tersebut terdiri dari 50% minyak sawit dan 50% solar murni.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Kesejahteraan Sosial (KESSOS), semester delapan, Chaila Saei Fauzihan menyatakan, implementasi bahan bakar biodiesel B50 memiliki potensi untuk menekan ketergantungan impor solar.

“Dengan begitu, dapat meningkatkan nilai ekonomi industri sawit bagi kesejahteraan petani dan menjadi langkah yang lebih ramah lingkungan karena kemampuannya dalam menekan emisi karbon secara signifikan,” katanya.

​Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), jurusan Hukum Tata Negara (HTN), semester empat, Feri Winata mengungkapkan, Indonesia khawatir belum sepenuhnya bisa menghadapi transisi penerapan B50 dalam waktu dekat yang dinilai belum sempurna.

“Kesiapan kita masih terbentur pada peningkatan kebutuhan sawit yang masif serta tingginya biaya penyesuaian infrastruktur. Sehingga jika tidak dikelola dengan hati-hati, justru menimbulkan potensi beban ekonomi baru bagi negara dan masyarakat,” ungkapnya.

(Selgy Deswita Isnaini)

Selgy Deswita Isnaini
Selgy Deswita Isnaini
Articles: 34

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *