
Rutinitas penumpang TransJakarta di tengah hiruk-pikuk kota. Sumber unsplash.com
Kita tumbuh di tengah zaman ketika ritme yang cepat telah menjelma menjadi kiblat baru kehidupan. Setiap detik seolah menuntut kita untuk terus berlari, mengejar pencapaian, mendapatkan pekerjaan yang bagus, memperoleh gaji besar, dan menjadi seseorang. Entah sejak kapan, “menjadi seseorang” terasa seperti beban pembuktian bahwa diri kita pantas hidup di dunia yang semakin bising.
Terduduk di dalam TransJakarta, di tengah padatnya jalanan ibu kota dan riuh klakson yang menggantung di udara, jemari kita secara otomatis bergerak menggulir layar gawai untuk mengalihkan pikiran. Di sana, berita yang melelahkan berseliweran di linimasa. Perang narasi menguras energi batin setiap kali kita membuka media sosial, berdampingan dengan pameran pencapaian hidup orang lain yang membuat kita mendadak merasa tertinggal.
Kita melihat unggahan seseorang yang baru saja membeli rumah, lalu seketika melirik realitas di balik jendela bus. Anak-anak jalanan menunggu belas kasih di antara kendaraan yang berhenti. Para pekerja paruh baya berjalan di bawah terik matahari. Kota terus bergerak, dan kita pun terus melihatnya, tetapi sering kali hanya sekilas.
Alih-alih benar-benar memahami keadaan di sekitar, kita justru terbiasa menggunakan penderitaan atau pencapaian orang lain sebagai alat ukur untuk menilai hidup sendiri. Kita membandingkan kehidupan kita dengan mereka yang lebih susah untuk sekadar melegakan dada, atau dengan mereka yang tampak lebih berhasil hingga rasa cemas karena tertinggal semakin tumbuh. Lebih jauh lagi, kebiasaan ini membuat kita memperlakukan kemiskinan dan kesusahan orang lain bukan sebagai persoalan struktural yang perlu dipahami dan diurai, melainkan sebagai properti naratif. Tanpa sadar, kita memaksa tubuh dan pikiran untuk terus berada dalam mode siaga, seolah berhenti sejenak adalah kesalahan yang akan membuat kita tertinggal.
Linimasa tidak pernah benar-benar memberi ruang kosong. Berbagai hal hadir sekaligus, mulai dari perdebatan opini publik yang melelahkan hingga standar kehidupan yang sulit dijangkau. Kita terbiasa menjadikan kebisingan itu sebagai latar belakang yang sulit dimatikan. Akibatnya, perhatian kita tercerai-berai. Kita merasa hebat karena mampu mengerjakan banyak hal sekaligus, padahal perlahan kehilangan kemampuan untuk benar-benar hadir dan meresapi setiap detik dengan utuh.
Padahal, di tengah deru itu, ada satu hal paling mendasar yang perlahan terabaikan, kita lupa cara untuk benar-benar bernapas.
Ini bukan soal fungsi biologis paru-paru, melainkan tentang bernapas sebagai tindakan sadar. Sebuah jeda untuk berhenti, menurunkan bahu yang tegang, dan benar-benar hadir di dalam tubuh sendiri. Sering kali, raga kita berada di meja kerja atau terjebak dalam kemacetan panjang, sementara pikiran kita adalah jiwa-jiwa buron. Pikiran itu melompat jauh ke tenggat waktu esok hari, bulan depan, bahkan tahun depan. Kita mencemaskan masa depan yang belum terjadi atau merutuki kesalahan masa lalu. Fisik kita memang ada di sini, tetapi kita tidak benar-benar hadir.
Saat kehilangan kesadaran untuk sekadar bernapas, kita perlahan membangun jarak dengan diri sendiri. Kita terbiasa menelan informasi dan tekanan tanpa sempat mencernanya, tanpa memberi ruang bagi emosi untuk dirasakan. Kelelahan tanpa henti bahkan kerap dianggap sebagai bukti bahwa kita sedang berjuang dan layak disebut berhasil. Padahal, tubuh sedang menjerit meminta rehat. Kita takut dunia runtuh seketika jika berhenti, padahal yang sebenarnya ambruk hanyalah ego kita sendiri.
Selama ini, mungkin kita mengartikan “Melihat yang Terlupakan” sebagai upaya mengamati mereka yang terpaksa berjuang sendirian di sudut-sudut kota yang paling sunyi. Padahal, sebelum sibuk memindai penderitaan orang lain, ada satu hal yang sering luput dari pandangan, yaitu diri kita sendiri. Kita begitu fasih mengkritik sistem sosial, memahami politik, dan memenuhi berbagai ekspektasi yang menggantung di pundak, tetapi justru merasa asing dengan keheningan selama lima menit untuk mendengarkan tarikan napas sendiri.
Bernapas secara sadar adalah upaya untuk kembali ke “rumah”. Ketika memberi jeda kepada diri sendiri untuk bernapas, kita belajar menyadari keadaan saat ini, di detik ini. Di tengah dunia luar yang riuh dan beban hidup yang terasa menekan, kita masih bisa mengambil waktu untuk kembali terhubung dengan diri sendiri. Mengambil napas secara sadar menjadi proses grounding, cara untuk kembali berpijak dan menenangkan pikiran agar tidak hanyut terbawa arus kecemasan yang tak bertepi.
Mungkin, hal paling berani yang bisa kita lakukan hari ini bukanlah berlari lebih kencang untuk menaklukkan dunia, melainkan berani berhenti sejenak. Berhenti bukan berarti menyerah. Tidak semua hal harus segera dijawab. Tidak semua perdebatan harus kita ikuti. Tidak semua pencapaian orang lain harus menjadi tolok ukur kesuksesan. Menjadi manusia tidak berarti harus selalu connected dengan segala kekacauan di luar sana. Kita berhak untuk tidak tahu, berhak mengambil jeda dari kebisingan, dan berhak untuk sekadar ada.
Mungkin sudah saatnya kita melambatkan langkah dan bertanya kepada diri sendiri: ketika dunia di luar berhasil kita genggam, tetapi batin kita kosong dan kelelahan, kemenangan seperti apa yang sebenarnya sedang kita rayakan? Jangan-jangan, kita hanya sedang memenangkan dunia sambil kehilangan diri sendiri. Padahal, kembali pada napas adalah salah satu cara sederhana untuk berdamai dengan diri sendiri dan mengingatkan bahwa kita tetap berharga, jauh dari segala tuntutan dan kebisingan dunia.
Maka, di tengah hari yang sesak ini, cobalah berhenti sejenak. Rasakan udara yang masuk, lepaskan lelah yang menumpuk, dan berjanjilah untuk benar-benar hadir. Barangkali, kita tidak selalu membutuhkan langkah yang lebih jauh. Barangkali, yang kita butuhkan hanyalah keberanian kecil untuk berhenti, bernapas, dan pulang.
(Adelia Fadillah Nugraha)






