
Koleksi rilisan fisik menyimpan cerita di balik setiap album. Sumber. Dok. Pribadi.
“Emang masih ada yang jual kaset?“Emang masih ada yang jual kaset?”
Pertanyaan itu sering kali kudengar setiap kali seseorang tahu aku mengoleksi beberapa rilisan fisik. Padahal, beberapa hari sebelumnya aku baru saja pergi ke Blok M atau Pasar Santa, masuk ke toko musik yang berjejer, melihat-lihat rak rilisan, atau ikut pre-order kaset musisi yang kusukai.
Kaset memang tidak lagi menjadi cara utama orang mendengarkan musik. Aku tahu itu karena aku juga hidup di zaman yang sama. Spotify Wrapped-ku, misalnya, tidak pernah menunjukkan bahwa aku sudah meninggalkan streaming. Handphone masih menjadi tempat utama untuk mendengarkan musik. Aku bisa mencari lagu apa pun dengan cepat, membuat playlist, menemukan musisi baru, lalu mengganti lagu kalau bosan.
Kaset pertama yang kubeli adalah Manifesto milik Jenny. Aku tidak ingat apakah saat itu aku sudah punya alasan yang cukup masuk akal untuk membelinya selain karena menyukai lagu “Menangisi Akhir Pekan”. Yang jelas, setelah itu aku mulai tertarik pada rilisan fisik. Aku mulai memperhatikan ketika sebuah band membuka pre-order dan mulai tahu toko mana yang bisa didatangi untuk mencari rilisan. Dari situ, perlahan aku mulai menemukan dunia musik yang ternyata jauh lebih luas daripada apa yang muncul di layar ponselku.
alau hanya melihat dari luar, kaset mungkin memang tampak seperti benda yang dianggap sudah selesai dengan zamannya oleh sebagian kalangan. Ia lebih merepotkan daripada streaming. Kaset bisa kusut, sedangkan kalau diputar menggunakan Walkman, baterainya cepat habis. Rilisan tertentu juga susah ditemukan dan karena jumlahnya terbatas, kadang harganya justru dipatok sangat tinggi.
Aku pernah mengejar kaset kolaborasi Dongker dan Jason Ranti dalam album I Don’t Know and I Dongker yang sudah tidak tersedia. Lalu, suatu hari, sebuah DM masuk. Seseorang menawariku kaset yang sedang kucari. Random sekali. Barang yang sebelumnya kuanggap sudah hilang dari peredaran tiba-tiba muncul di kotak pesanku. Setelah bernegosiasi, aku memutuskan membelinya dan meminta adikku untuk mengambil barangnya di daerah Bintaro. Rasanya puas saat kaset itu sampai ke tanganku, mungkin karena proses mencarinya membuat benda itu punya cerita tersendiri.
Ketika aku mulai datang ke toko kaset atau mengunjungi event Record Store Day karena adikku ada di sana, aku semakin memperhatikan sekelilingku dan menyadari bahwa kaset sebenarnya tidak pernah benar-benar mati. Masih ada musisi yang merilis karyanya dalam bentuk fisik, masih ada penggemar yang menunggu pre-order, dan masih ada berbagai toko yang menyusun rilisan di rak. Dunia itu masih ada. Mungkin terkadang kita sering menganggap sesuatu hilang hanya karena ia berhenti muncul di sekitar kita. Padahal, bisa jadi ia hanya hidup di tempat lain yang belum kita datangi.
Lucunya, sebagian besar rilisan fisik yang kubeli sebenarnya sudah bisa kudengarkan tanpa membelinya. Aku bisa dengan mudah mendengarkan lagu-lagu Oasis ataupun The Strokes di Spotify. Begitu juga The Jeblogs, Sajama Cut, Rumahsakit, atau band lain yang kemudian masuk ke rak koleksiku. Namun, ada sesuatu yang berbeda ketika musik memiliki bentuk fisik. Aku bisa melihat sampulnya, menyentuhnya, membaca nama-nama yang terlibat dalam produksi, bahkan mengingat dari mana benda itu datang.
Aku pernah membeli kaset Sambutlah milik The Jeblogs dari sebuah toko di Pasar Santa ketika berulang tahun. Kaset itu menjadi salah satu benda yang mengingatkanku pada hari tersebut. Mungkin beberapa tahun lagi aku lupa apa saja yang kulakukan, tetapi ketika melihat kaset itu, ada kenangan yang tersimpan walaupun sebenarnya tidak ada dalam lagunya.
Aku pernah membawa kaset band Dongker ke backstage untuk meminta tanda tangan kepada para personelnya. Tanda tangan itu tentu tidak membuat musiknya menjadi lebih bagus. Lagu-lagunya tetap sama saja. Namun, ketika melihat bendanya lagi, yang kuingat bukan hanya daftar lagunya. Aku mengingat bahwa benda tersebut pernah kubawa ke tangan musisinya, lalu kembali ke tanganku. Musik yang awalnya hanya kudengarkan akhirnya menjadi potongan kisah yang menyimpan sebuah peristiwa yang pernah kualami.
Pernah suatu kali aku membeli vinyl Silampukau seharga sekitar lima ratus ribuan. Sebagai mahasiswa, harga itu bukan nominal yang bisa dianggap kecil. Sebenarnya, kalau hanya ingin mendengarkan lagu-lagu dari album Dosa, Kota, dan Kenangan, aku tinggal membuka Spotify. Namun, akhirnya tetap kubeli karena menurutku album tersebut adalah salah satu rilisan folk Indonesia terbaik yang pernah kudengar dan aku ingin memiliki rilisan fisiknya.
Aku menunggu-nunggu vinyl itu datang dari Surabaya. Secara digital, aku bisa mendengarkan lagunya dalam hitungan detik. Namun, benda itu harus menempuh perjalanan jauh, mulai dari tahap produksi, kemudian dikemas dan dikirimkan, hingga akhirnya sampai ke teras rumahku di timur Kota Jakarta. Pada akhirnya, saat paket itu telah kuterima, yang datang bukan cuma album yang sudah kuhafal, tetapi juga perjalanan yang ikut sampai bersamanya.
Ada satu hal yang kutemui dalam sebuah album, yakni urutan lagu atau tracklist yang disusun. Ada daftar lagu yang dirangkai untuk membentuk sebuah album. Bagiku, itu bukan sekadar urutan lagu, melainkan rangkaian cerita.
Di era saat ini, ketika musik lebih mudah diakses, ada perbedaan dalam cara kita menikmatinya. Kita sering kali mendengarkan lagu yang disukai atau reff yang sedang viral di TikTok. Tentu saja, itu bukan hal yang salah. Namun, dalam sebuah album musik, menurutku setiap urutan punya maknanya sendiri.
Salah satu album yang membuatku memikirkan hal ini adalah Sinestesia milik Efek Rumah Kaca. Ada enam judul lagu yang digambarkan sebagai warna dalam satu album, yakni Merah, Biru, Jingga, Hijau, Putih, hingga Kuning. Tentu aku bisa mengambil satu lagu dari sana dan memasukkannya ke playlist. Aku bisa mendengarkan satu bagian tanpa harus menyelesaikan keseluruhannya. Namun, bisa jadi ada cerita yang luput saat sebuah album hanya dianggap sebagai kumpulan lagu.
Lagu pertama bisa jadi membuka perjalanan, lalu lagu berikutnya membawa kita ke bagian lain. Ada perubahan suasana, ada jeda, dan ada perpindahan sampai akhirnya album selesai sebagai satu kesatuan cerita yang utuh. Mendengarkan lewat kaset membuatku lebih sadar akan hal itu. Saat Side A diputar, aku mendengarkan lagu-lagu secara berurutan dari awal hingga akhir. Lalu, ketika sisi tersebut habis, aku membalik kaset ke Side B dan melakukan hal yang sama sambil mencoba memahami makna di baliknya.
Padahal, platform streaming biasanya membuatku melakukan sebaliknya. Aku memilih lagu yang sedang ingin kudengarkan, menekan skip berkali-kali, mencampur berbagai genre dalam satu playlist, membiarkan musik ter-shuffle, lalu terus mencari sesuatu yang lebih menarik. Aku tidak menganggap itu buruk. Justru itulah kemudahan yang membuat streaming terasa menyenangkan. Namun, kaset memberiku pengalaman lain, yakni memahami jalan cerita sebuah album.
Pengalaman mencari rilisan juga membuatku melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlalu kusadari. Misalnya, aku pernah menemukan The Grovvs, band asal Magelang, dari internet dan bukan karena mereka sedang banyak dibicarakan. Aku hanya menemukan musiknya, mendengarkan, lalu berpikir bahwa ternyata lagu mereka yang berjudul When I Was 21 terasa relatable.
Pengalaman seperti itu membuatku sadar bahwa ekosistem musik jauh lebih luas daripada apa yang masuk ke beranda kita. Di saat algoritma mempertemukan kita dengan musik baru, sebenarnya apa yang muncul di layar tidak pernah menjadi keseluruhan dunia. Ada hal-hal yang masih tersimpan di baliknya.
Di situlah aku mulai melihat musik bukan hanya sebagai produk yang kita dengarkan, tetapi juga sebagai sebuah ekosistem. Ada musisi, label, desainer, produsen, toko, penjual, pembeli, komunitas, hingga berbagai pihak lain yang sebenarnya terlibat, tetapi tak selalu terlihat. Satu album ternyata dapat melibatkan lebih banyak manusia daripada yang terlihat ketika kita menekan tombol play di Spotify.
Aku juga tidak ingin menjadikan kaset sebagai simbol bahwa masa lalu lebih baik. Kalau diminta memilih cara paling praktis untuk mendengarkan musik, tentu aku tetap memilih streaming. Rilisan fisik pun tidak selalu kubeli hanya karena ingin mendengarkan musiknya. Kadang aku membelinya karena ingin mendukung musisinya, desainnya menarik, atau berharap suatu hari bisa meminta tanda tangan langsung dari musisinya.
Semakin lama mengikuti rilisan fisik, aku akhirnya sadar bahwa hal menarik dari kaset ternyata bukan hanya bentuk fisiknya. Kaset menjadi pintu masuk bagiku untuk melihat dunia yang lebih luas dan belum kusadari sebelumnya. Dari sana, aku melihat ada toko-toko yang masih bertahan, musisi yang masih membuat rilisan di tengah gempuran platform streaming, band yang tidak pernah masuk radar sebelumnya, hingga pengalaman menunggu paket dari kota lain dan mengejar kaset Paradoks Diametral milik FSTVLST yang waktu itu sudah sold out.
Ada saat ketika aku mencoba duduk lebih lama untuk mendengarkan sebuah album dari awal sampai selesai dan menerka-nerka cerita yang ada di baliknya. Sesuatu tidak seketika hilang hanya karena tidak muncul di depan mata. Ia mungkin masih hidup di tempat lain yang belum pernah kita kunjungi. Mungkin, melihat sesuatu yang terlupakan bukan persoalan menemukan hal yang benar-benar sudah hilang dari mana pun. Kadang, kita hanya perlu melihat sedikit lebih dalam apa yang tidak muncul di permukaan.
Aku membelinya untuk mengingat bahwa di tengah dunia yang membuat segala sesuatu begitu mudah ditemukan, diganti, dan di-skip, masih ada pengalaman yang terasa berbeda ketika kita mencari, menunggu, memiliki, lalu mengingat kembali cerita di baliknya. Mungkin itu yang selama ini ingin kulihat dari benda yang dianggap terlupakan. Bukan masa lalu yang kembali, melainkan cara lain untuk memandang sesuatu yang masih hidup.
(Siwa Fathma Jaelani)






