
Foto bersama usai peluncuran riset TREX-AI di teater lantai dua FDIKOM. Sumber. Dok. Pribadi
Pada Rabu (7/10), tim peneliti gabungan Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan Mataram, meluncurkan riset mengenai risiko ekstremisme beragama digital. Bertempat di teater lantai dua, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), peluncuran riset menghadirkan inovasi sistem kecerdasan buatan bernama Trustworthy-Explainable AI (TREX-AI), guna mendeteksi dini penyebaran narasi radikalisme secara terukur dan beretika di media sosial.
Dekan FDIKOM sekaligus ketua tim peneliti, Gun Gun Heryanto menuturkan, riset berbasis computational psychometrics dengan 34 indikator tervalidasi menghasilkan policy brief bagi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), dan Kementerian Agama.
“Saat ini, penyebaran konten ekstrem tidak otomatis membuat seseorang menjadi ekstrem jika memiliki self-control dan basis nilai yang kuat. Sehingga kita ingin memastikan sistem TREX-AI tidak asal memblokir postingan keagamaan yang wajar, melainkan fokus mendeteksi pola narasi yang berisiko,” tuturnya.
Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi menjelaskan, riset TREX-AI memberi kontribusi akademis yang belum pernah ada pada alat pemantau media sosial biasa. Pengujian berbasis survei langsung terhadap 1.500 pengguna aktif media sosial, mampu memetakan tingkat kerentanan dan bahaya ujaran radikalisme secara lebih presisi.
“Drone Emprit biasanya hanya memantau percakapan dan emosi umum seperti positif atau negatif di media sosial. Maka, hadirnya TREX-AI memberi alat ukur akademis yang sangat penting untuk mengklasifikasikan level bahaya ujaran radikalisme secara terukur,” jelasnya.
(Muhammad Raffa Al Farezzy)






