
Potret Rafly saat mendapatkan kejuaraan sebagai Duta GenRe. Sumber. Dok. Pribadi
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), semester tiga, Rafly Arya Ramadhan, menjadikan masa kuliah sebagai kesempatan untuk terus mengembangkan kemampuan dan memperluas pengalaman. Kesibukannya tidak hanya terpusat pada kegiatan akademik, tetapi diisi dengan aktivitas sebagai Duta GenRe Jakarta Utara dan Duta GenRe DKI Jakarta, berbagai kegiatan kampus, serta pengabdian sebagai pengajar di Pondok Pesantren Darul Islah.
“Menurut saya, kesempatan tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang besar. Terkadang, keberanian untuk mencoba hal sederhana justru menjadi awal dari pengalaman yang membuka banyak peluang berikutnya bagi generasi muda seperti kita,” ujarnya.
Kebiasaan untuk berani mencoba dimiliki Rafly sejak duduk di bangku sekolah, ia aktif mengikuti berbagai kompetisi yang membawanya berhadapan dengan pengalaman baru di tingkat kota, provinsi, nasional, hingga internasional. Berbagai pengalamannya membentuk keberanian untuk mengambil peluang dan terus mencari ruang untuk meningkatkan kemampuan diri.
Perjalanan tersebut memberi Rafly pengalaman luas, terutama dalam meningkatkan kemampuan komunikasi dan memperkaya wawasan. Selama mengikuti rangkaian kegiatan, ia mendapatkan berbagai materi, seperti pemahaman mengenai GenRe, teknik membaca berita, dan pengetahuan umum tentang Jakarta Utara.
“Dukungan dari lingkungan sekitar membuat saya semakin terdorong untuk mengembangkan kemampuan public speaking. Sehingga, pengalaman paling berkesan, ketika saya melihat langsung respons orang setelah mendapat materi yang saya sampaikan. Saya memahami bahwa cara kita berbicara dapat membuat seseorang merasa lebih diperhatikan dan berani mengambil langkah baru,” tuturnya.
Selain aktif sebagai Duta GenRe, Rafly menjalankan peran sebagai Duta Remaja Peduli Gizi dan mengembangkan keterampilan dalam membuat desain poster. Di tengah padatnya aktivitas, ia tetap berupaya menjaga kewajiban akademik dengan menentukan skala prioritas dan mengatur jadwal. Namun, dari seluruh kegiatan yang dijalani, pengalaman mengajar di Pondok Pesantren Darul Islah menjadi salah satu hal yang paling ia maknai karena dapat membagikan pengetahuan secara langsung.
“Buat saya, pencapaian yang sebenarnya bukan hanya ketika nama kita disebut sebagai juara, tetapi ketika apa yang kita pelajari bisa kembali diberikan kepada orang lain. Saat ilmu itu bermanfaat, di saat itu saya merasa pengalaman yang saya jalani memiliki nilai,” pungkasnya.
Berbagai pengalaman membuatnya semakin percaya diri dalam menghadapi tantangan dan mendorong mahasiswa lain untuk berani memulai tanpa harus menunggu keadaan sempurna. Sehingga, tidak perlu menunggu diri menjadi hebat untuk mulai mencoba, karena proses mencoba yang perlahan akan membentuk diri kita.
(Muhammad Raffa Al Farezzy)






