Setelah Masa Jabatannya Berakhir, Tanda Tangan Purbaya di Lembaran Rupiah Jadi Rebutan

Mantan Menkeu, Purbaya Yudhi Sadewa dalam pemaparan APBN Kita. sumber. cnbcindonesia.com


Balamuda, belakangan ini kabar soal pergantian Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa tengah ramai diperbincangkan. Publik dibuat terkejut karena baru sekitar setahun menggantikan Sri Mulyani, Purbaya harus menyerahkan tongkat estafet kepada Suahasil Nazara. Namun, di tengah ramainya pembahasan soal pergantian jabatan, muncul fenomena lain yang tak kalah menarik. Netizen justru ramai memburu dan menyimpan lembaran rupiah yang memuat tanda tangan Purbaya, terutama pecahan Rp100.000. 

Nah, sebenarnya fenomena ini punya alasan yang cukup masuk akal. Setiap kali terjadi pergantian Menkeu atau Gubernur Bank Indonesia (BI), tanda tangan pejabat yang tercetak pada uang rupiah juga mengalami perubahan. Karena masa jabatan Purbaya relatif singkat, jumlah lembaran uang yang diterbitkan dengan tanda tangannya berpotensi lebih terbatas dibandingkan periode pejabat lain yang menjabat lebih lama. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat dan kolektor tertarik menyimpan uangnya, dengan harapan menjadi barang koleksi yang bernilai tinggi. 

Namun, Balamuda perlu tahu bahwa tanda tangan pejabat bukan satu-satunya faktor yang menentukan harga sebuah uang koleksi. Tahun emisi dan masa edar juga menjadi pertimbangan penting. Uang yang dicetak dalam jumlah atau periode terbatas, maupun uang yang sudah tidak beredar lagi, biasanya lebih menarik bagi kolektor karena semakin lama jumlahnya dapat semakin sulit ditemukan. Selain itu, nomor seri tertentu juga bisa membuat sebuah lembaran uang memiliki daya tarik tersendiri.

Nomor seri yang dianggap unik, seperti angka berurutan, angka kembar, atau seri yang memiliki pola tertentu, kerap menjadi incaran kolektor. Bahkan, nomor seri yang diawali angka “001” dapat dianggap menarik karena memiliki kesan sebagai bagian awal dari suatu penerbitan. Faktor lainnya adalah edisi khusus atau terbatas yang memang diterbitkan untuk memperingati momen tertentu. Salah satu contohnya adalah Uang Peringatan Kemerdekaan (UPK) 75 Tahun Republik Indonesia pecahan Rp75.000 yang diluncurkan pada 17 Agustus 2020. Selain memiliki nominal, uang tersebut juga membawa desain dan cerita yang berkaitan dengan peringatan 75 tahun kemerdekaan Indonesia. 

Di luar tahun emisi, nomor seri, dan edisi khusus, kondisi fisik ternyata juga sangat menentukan. Uang dalam kondisi Uncirculated (UNC), alias belum pernah beredar dan masih terlihat mulus tanpa lipatan atau kerusakan, umumnya lebih menarik bagi kolektor dibandingkan uang yang sudah sering berpindah tangan. Karena itu, para kolektor biasanya menyimpan uang dalam album, buku khusus, atau ada pula yang memilih membingkainya agar kondisi fisiknya tetap terjaga. 

Jadi, Balamuda, coba cek kembali isi dompet atau celengan di rumah. Siapa tahu ada lembaran rupiah yang bukan cuma memiliki nilai nominal, tetapi juga punya cerita dan daya tarik sebagai barang koleksi. Kalau kebetulan masih punya uang Rp100.000 bertanda tangan Purbaya, menyimpannya dengan baik bisa menjadi salah satu cara menjaga koleksi. Soal apakah nantinya benar-benar bernilai tinggi, tentu tetap bergantung pada kelangkaan, kondisi, permintaan kolektor, dan perkembangan pasar. Tapi ingat, Balamuda, nggak perlu sampai bongkar dompet orang tua, ya!  

(Syadwiena Rayapuan Aglanafaira)

Syadwiena Rayapuan Aglanafaira
Syadwiena Rayapuan Aglanafaira
Articles: 63

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *