Ubah Trauma Menjadi Karya, Ahmad Hilmy Farid Raih Juara Kompetisi Menulis Tingkat Nasional

Potret Ahmad Hilmy Farid raih juara finalis lomba menulis, pada ajang penerbitan Buku Ontology. Sumber. Dok. Pribadi


Ahmad Hilmy Farid merupakan mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), semester empat. Dirinya kerap di sapa Hilmy, melalui karyanya berjudul “Resiliensi Frekuensi: Transformasi dari Luka Perundungan menjadi Suara Dakwah dan Pena Jurnalisme”, ia memulai perjalanan menulisnya.

Hilmy menjadikan luka sebagai motivasi untuk terus berkembang, hingga berhasil meraih juara finalis lomba menulis kisah pribadi tingkat Nasional pada ajang Penerbitan Buku Ontology. Dirinya merasa terkejut saat mengetahui bahwa ia dinobatkan menjadi finalis, namun ia merasa sangat bersyukur kepada Allah SWT atas kekuatan untuk terus melangkah maju.

Motivasi utamanya menulis kisah pribadinya adalah untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya perundungan yang dampaknya bisa sangat fatal bagi korbannya. Hilmy berharap tulisannya mampu menginspirasi orang lain, bahwa hambatan atau keterbatasan diri bukan alasan untuk berhenti mengejar mimpi.

“Masyarakat perlu tau, betapa besarnya efek bullying. Bahkan banyak orang yang kehilangan nyawa karena nggak kuat dengan tekanan bullying. Saya bertekad untuk bisa memberikan manfaat kepada orang lain, serta memberikan kesadaran untuk bangkit dan selalu semangat walaupun memiliki keterbatasan dalam meraih impian,” ungkapnya.

Tantangan terbesar yang dihadapi Hilmy dalam proses penulisan kisah pribadinya bukan menyusun rangkaian kata, melainkan menghadapi kembali kenangan pahit yang pernah menjadi luka dalam hidupnya. Saat menulis, ia harus kembali mengingat masa-masa ketika mengalami perundungan, diremehkan, dan merasa tidak dianggap oleh lingkungan sekitarnya.

“Seseorang harus berani menyimpan sejarah, lalu mengabadikannya tanpa rasa takut untuk dijauhi dan diancam banyak orang. Hindari rasa malas, terus giat, bangkit, dan selalu tumbuh meskipun berada di tengah perbatasan, bahkan ketika disapa badai,” jelasnya.

Pengalaman buruk yang pernah dirasakan justru menjadi hal penting dalam membentuk ketahanan mental yang dimilikinya saat ini. Penting bagi setiap orang untuk berani menyuarakan pengalaman hidupnya tanpa harus merasa takut akan penilaian atau ancaman dari pihak lain, karena pada kenyataanya tidak ada orang hebat yang terlahir dalam keadaan hebat.

“Maka teman-teman tidak perlu menunggu kondisi sempurna untuk memulai berkarya, karena kehebatan adalah hasil dari proses belajar, bukan sesuatu yang dapat diperoleh secara instan. Jangan pernah menunggu menjadi sempurna untuk mulai berkarya karena pada kenyataanya tidak ada orang hebat yang terlahir dalam keadaan hebat,” pungkasnya.

(Muhammad Hasbi Mukhtar)

Muhammad Hasbi Mukhtar
Muhammad Hasbi Mukhtar
Articles: 37

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *