Kisah Ayu Estuning Tias Buktikan, Pengabdian Kunci Menuju Panggung Internasional

Potret Ayu dalam salah satu program kegiatan Kampung Al Qur’an. Sumber. Dok. Pribadi


Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Ayu Estuning Tias yang akrab disapa Ayu, mencuri perhatian dalam perayaan World Social Work Day (WSWD) 2026 sebagai Master of Ceremony (MC). Kepercayaan dirinya, berakar dari pengalaman panjangnya saat melakukan praktik di Independen Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI).

​Awalnya, Ayu sempat merasa ragu memilih jurusan PMI karena latar belakang keluarganya yang didominasi oleh praktisi kedokteran dan teknik. Namun, sebagai mahasiswa rantau, ia memutuskan melawan ketidakpastian tersebut dengan bergabung dalam Gerakan Kampung Al-Qur’an. Baginya, dunia kerelawanan adalah wadah paling efektif untuk menguji teori pengembangan masyarakat dengan realita sosial yang seringkali jauh dari ekspektasi.

​“Pertama kali terjun, saya ke wilayah Kuningan. Faktanya, daerah sana masih ada kesenjangan literasi yang anak-anaknya belum lancar baca padahal fasilitas fisiknya tersedia. Tapi pengalaman tersebut mengajarkan saya, pengabdian masyarakat menuntut kesabaran ekstra dan keikhlasan, lebih dari sekadar menjalankan program kerja,” ungkapnya.

​Dedikasi yang tinggi kemudian membawa Ayu dipercaya menjadi mentor kelompok untuk penempatan di Lebak, Banten. Di wilayah dengan akses jalan yang sulit dan fasilitas pendidikan minim, Ayu justru menemukan inspirasi dari semangat belajar anak-anak yang luar biasa. Kondisi serba terbatas tersebut memaksanya untuk keluar dari zona nyaman, memahami esensi menjadi manusia yang bermanfaat.

​Selama proses menjadi relawan, Ayu menyadari bahwa niat tulus harus dibarengi dengan pemahaman terhadap akar masalah sosial. Melalui kegiatan volunteer, ia mengasah kemampuan sosialisasi ke dalam aksi sosial yang lebih terarah. Tantangan berat seperti perbedaan sudut pandang dan beban emosional saat mendengar kisah pilu masyarakat justru membentuk Ayu menjadi pribadi yang peka namun tetap profesional.

​“Bagi saya pentingnya persiapan mental dan niat bagi para calon relawan yang ingin terjun ke masyarakat. Dunia kerja sosial penuh keberagaman persoalan yang membutuhkan tanggung jawab besar, bukan sekadar rasa iba sesaat. Maka, setiap langkah kecil memberi pelajaran hidup yang tak ternilai, sehingga membentuk saya menjadi sosok tangguh,” tegasnya.

 (Rifananda Ibrahim Bijaksana)

Rifananda Ibrahim Bijaksana
Rifananda Ibrahim Bijaksana
Articles: 8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *