
Rafi Kamilsyah Sangadji mengikuti Indonesia Energy Transition Dialogue 2025. Sumber. Dok. Pribadi
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), jurusan Ilmu Hukum (IH), Rafi Kamilsyah Sangadji yang akrab dipanggil Rafi, mengukir prestasi gemilang dengan meraih juara kedua, sekaligus dinobatkan sebagai Best Speaker pada lomba Debat Mahasiswa Dunia Energi Tingkat Nasional 2026. Pencapaian tersebut menjadi bukti dedikasi Rafi, dalam menggeluti dunia debat yang telah di asah sejak masa Sekolah Menengah Atas (SMA).
“Awalnya, saya ingin melatih pola pikir kritis dan kemampuan berbicara di depan umum tanpa takut di interupsi. Sebab dalam debat kita diberikan waktu berbicara tanpa adanya pemotongan dari orang lain. Maka, untuk orang yang sedikit pemalu, hal itu membuat saya nyaman di bidang debat,” jelasnya.
Perjalanan Rafi dimulai saat memberanikan diri terjun ke kompetisi tingkat perguruan tinggi pada semester satu, yang langsung membuahkan hasil di ajang National Intervarsity Climate and Energy Debate 2024. Meski saat itu masih tergolong pemula, Rafi dan timnya berhasil meraih juara kedua, serta meraih pembicara terbaik. Mengenang momen tersebut, Rafi bertemu dengan para debater hebat dari kampus ternama yang memicu semangatnya.
Namun, di balik kegemilangan tersebut, Rafi harus melewati tantangan internal yang menuntutnya untuk bisa keluar dari zona nyaman pola pikir pribadinya. Rafi sering kali ditempatkan pada posisi pro atau kontra dengan prinsip yang di yakini, sehingga Rafi dipaksa melihat isu dari berbagai sudut pandang yang berbeda.
“Menyamakan persepsi dalam tim debat sangat bergantung pada pengalaman masing-masing anggota. Dengan mengetahui fokus dan konteks debat secara jelas, tim dapat membangun argumentasi yang sejalan,” tegasnya.
Kini, kepiawaiannya dalam berdebat membuka pintu peluang lain, mulai dari berpartisipasi dalam Parlemen Remaja, hingga menjadi pelatih kompetisi internasional di platform Globy.id. Rafi membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba adalah kunci menaklukkan rasa tidak percaya diri yang menghalangi potensi seseorang. Maka, takut terhadap public speaking dan debat hanya akan hilang, kalau sudah berani mencoba dua hal tersebut.
(Syadwiena Rayapuan Aglanafaira)





