
Kemendiktisaintek berencana menghapus beberapa jurusan yang sudah tidak relevan. sumber. sindonews.com
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Brian Yuliarto berencana menutup sejumlah jurusan yang dinilai sudah tidak relevan. Bertujuan meningkatkan daya saing lulusan di pasar kerja, langkah tersebut menuai kontra dari kalangan mahasiswa. Persoalan utama sebenarnya bukan terletak pada eksistensi jurusan tersebut, melainkan pada kurikulum yang usang, serta minimnya pengalaman praktis di lapangan.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), semester empat, Abdullah Azzam menjelaskan, penutupan jurusan belum tentu menjadi solusi efektif, karena bekerja di luar bidang keahlian dalam jangka panjang justru berisiko menurunkan kualitas.
“Daripada hanya bergantung pada gelar akademik, mahasiswa seharusnya lebih fokus memperluas jaringan relasi, memperbanyak pengalaman magang, dan secara konsisten mengasah keterampilan di luar kurikulum. Sehingga dapat memiliki kompetensi nyata yang mampu menjawab tantangan dunia kerja yang dinamis,” jelasnya.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Jurnalistik, semester delapan, Syifa Awaliyah menuturkan, akar permasalahannya bukan pada eksistensi jurusan, melainkan kurikulum yang sudah tertinggal. Perlunya pembenahan agar lebih adaptif terhadap kebutuhan industri dan tidak serta-merta menghapus jurusan lama.
“Saya menekankan bahwa jurusan lama tidak seharusnya langsung diganti begitu saja, melainkan harus diintegrasikan secara adaptif sesuai dengan perkembangan industri. Mahasiswa perlu didorong untuk membangun portofolio, melalui program manajemen trainee dan pengalaman lapangan,” tuturnya.
(Rifananda Ibrahim Bijaksana)





