
Pemilahan sampah yang dilakukan, guna menjaga lingkungan tetap bersih. sumber. detik.com
Di tengah cuaca ekstrem dan krisis pengelolaan sampah, pada awal April 2026, para ahli kesehatan memperingatkan potensi kembalinya wabah pes (Plague). Ancaman penyakit yang ditularkan melalui tikus ini kembali mencuat, sebagai dampak langsung dari lingkungan yang tidak higienis. Maka, upaya dan kesadaran lingkungan masyarakat perlu ditingkatkan guna memutus rantai penularan.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), semester empat, Laila Ayu Safitri menjelaskan, fluktuasi cuaca ekstrem dari panas ke hujan, menjadi faktor pemicu utama munculnya kembali wabah pes di Indonesia. Maka, perlunya kesadaran masyarakat agar tidak terjadi penularan lebih lanjut.
“Sebagai mahasiswa, saya sangat menyarankan agar kita semua mulai disiplin dalam menjaga pola makan yang bergizi, mengatur waktu tidur yang cukup, serta rutin berolahraga untuk memperkuat daya tahan tubuh,” jelasnya.
Mahasiswa Fakultas Ushuluddin (FU), jurusan Ilmu Hadis (ILHA), semester empat, Muhammad Muchtar Aziz menuturkan, faktor yang mengancam kesehatan masyarakat saat ini, adalah kondisi lingkungan yang kumuh. Selain itu, manajemen pengelolaan sampah yang masih sangat buruk di berbagai titik.
“Kewaspadaan terhadap wabah pes tidak boleh dianggap remeh, sehingga mahasiswa harus menerapkan pola hidup sehat sekaligus meningkatkan kesadaran dalam mengelola sampah di lingkungan sekitar, agar mata rantai penyebaran kuman dapat diputus,” tuturnya.
(Rifananda Ibrahim Bijaksana)





