
Disabilitas tunanetra yang sedang menggunakan teknologi digital. sumber. liputan6.com
Kementerian Sosial (Kemensos) berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), pada Rabu (7/10), bertekad menampung aspirasi penyandang disabilitas netra. Kedua kementerian ingin agar fitur pembaca layar dapat memudahkan disabilitas netra, dalam mengakses informasi dan layanan digital di berbagai platform digital nasional.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), semester tiga, Andi Wijaya menuturkan, pentingnya perangkat lunak aksesibilitas berbasis audio. Sehingga, memungkinkan penyandang disabilitas netra dapat mengakses informasi di platform digital secara mandiri.
“Dalam hal ini, kementerian tidak hanya berbicara teknologi, tapi juga harus melibatkan organisasi penyandang disabilitas untuk mengetahui kebutuhan mereka. Jika pendekatan terus dilakukan, pelayanan publik bisa lebih sesuai dengan kondisi pengguna,” tuturnya.
Mahasiswa Syariah dan Hukum (FSH), jurusan Perbandingan Mazhab (PMH), ssemester lima, Fitri Yani mengungkapkan, target implementasi pada dua tahun yang akan mendatang terlalu menunda waktu, karena penundaan membuat penyandang disabilitas tidak mendapat dukungan yang diperlukan.
“Sehingga kita butuh upaya yang terealisasikan secara cepat. Kalau sampai terlalu lama, kebijakan-kebijakan yang akan datang menjadikan kebijakan ini hanya sebagai wacana tanpa pernah terealisasi,” ungkapnya. .
(Selgy Deswita Isnaini)






