
Berlangsungnya pemaparan materi penegakan HAM dan kebebasan berdemokrasi. Sumber. Dok. Pribadi
Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (DEMA FSH), pada Rabu (30/9), menggelar diskusi publik September Hitam bertajuk, “Mengingat untuk Melawan”. Bertempat di teater lantai empat FSH, diskusi mengkritisi stagnasi penyelesaian kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat dan menguji komitmen perlindungan kebebasan demokrasi pada masa transisi kepemimpinan nasional.
Ketua pelaksana (Ketuplak) September Hitam, Revita Putri Sadewi menuturkan, aksi merawat ingatan kolektif diselenggarakan, guna mencegah terjadinya amnesia sejarah di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum.
“Sehingga transisi kepemimpinan nasional, merupakan ujian untuk memastikan pergantian rezim pemerintahan. Penegakan hukum harus direalisasikan, bukan malah melestarikan imunitas bagi para pelanggar HAM,” tuturnya.
Anggota Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Firdinda Laode Ahmad mengungkapkan, kondisi penegakan HAM di Indonesia masih timpang, akibat jurang pemisah antara jaminan konstitusi dan realitas di lapangan.
“Oleh karena itu, bentuk pemenuhan hak dasar rakyat, seperti akses pendidikan tinggi yang terjangkau hingga kebebasan mengekspresikan pendapat di ruang publik. Maka harus menjadikan analisis HAM sebagai diskusi harian, guna membangun konsolidasi sipil yang solid,” ungkapnya.
(Muhammad Raffa Al Farezzy)






