
Peringatan hari emansipasi perempuan Raden Ajeng Kartini 2026. sumber. eraspace.com
Pada Selasa (21/4), peringatan Hari Kartini tak lagi sekadar seremoni baju adat, melainkan bertransformasi menjadi ruang aktualisasi emansipasi. Dengan memanfaatkan kekuatan media sosial, generasi muda menyuarakan isu kesetaraan gender dan menghidupkan kembali semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini. Maka, hal tersebut memastikan perjuangan perempuan tidak sekedar simbolisme, melainkan berdampak pada perubahan sosial.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), semester sepuluh, Nurul Qomariah menjelaskan, emansipasi dimanifestasikan melalui keaktifan berorganisasi, serta kontribusi nyata di masyarakat. Sehingga, peran mahasiswi dan influencer menjadi kunci utama meningkatkan keberanian perempuan untuk bersuara.
“Media sosial kini menjadi senjata utama kami untuk menyuarakan hak-hak perempuan, namun kekuatan sebenarnya ada pada bagaimana kita berani mengambil peran. Dengan aktif dalam struktur organisasi dan memberi dampak positif langsung bagi lingkungan sekitar,” jelasnya.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Kesejahteraan Sosial (KESSOS), semester delapan, Indra Fata mengungkapkan, perayaan Hari Kartini selama ini masih terjebak dalam seremoni simbolik. Hal tersebut mendesak pihak kampus untuk lebih proaktif dalam menyediakan ruang diskusi kritis, serta perlindungan bagi perempuan.
“Peringatannya akan jauh lebih bermakna, jika kampus tidak hanya menggelar acara seremonial. Sehingga harus hadir sebagai fasilitator yang menyediakan ruang aman dan edukasi berkelanjutan untuk membedah akar permasalahan isu gender sekarang,” ungkapnya.
(Jiddan Akrom Ramadhan)





