Batasi Penggunaan Gadget, Tingkatkan Literasi di Swedia

Diterapkannya metode konvensional, menulis dengan pena dan kertas. sumber. kompas.com


Pada Kamis (16/4), juru bicara pendidikan Swedia, Joar Forsell membatasi penggunaan gawai di sekolah, agar krisis konsentrasi dan kemampuan literasi di kalangan generasi muda meningkat. Hal tersebut juga ingin mengembalikan fokus siswa pada metode pembelajaran konvensional, sehingga para pelajar dapat kembali mengasah keterampilan menulis tangan, serta kemampuan membaca tanpa distraksi digital.

Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST), jurusan Teknik Informatika (TI), semester empat, Azfa Dzaki Muzhaffar menjelaskan, perlu regulasi perangkat digital, agar penggunaannya tetap terkontrol. Sehingga, dalam kurikulum berbasis teknologi di lingkungan kampus, mahasiswa bisa menyeimbangkan metode digital dan konvensional sesuai porsinya.

“Gadget adalah hal penting yang mempermudah kami dalam mengeksplorasi data dan praktik pemrograman secara real time. Namun kontrol diri tetap menjadi kunci agar kehadiran teknologi tidak berbalik menjadi distraksi yang merusak fokus belajar,” jelasnya.

​Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Manajemen Dakwah (MD), semester empat, Nasir Husny Mubarok mengungkapkan, penggunaan gawai bisa menjadi hambatan yang mengikis kualitas penyerapan materi. Maka, lingkungan belajar tradisional jauh lebih efektif membangun koneksi pemahaman.

“Proses pembelajaran tatap muka dengan konvensional menawarkan suasana yang jauh lebih kondusif. Hal tersebut disebabkan, tidak adanya gangguan notifikasi gawai, untuk mendalami ilmu secara maksimal tanpa adanya intervensi digital yang tidak perlu,” ungkapnya.

(Muhammad Hasbi Mukhtar)

Muhammad Hasbi Mukhtar
Muhammad Hasbi Mukhtar
Articles: 25

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *