107.9 RDKFM

Bekali Mahasiswa Hadapi Era Digital, Kessos dan BPI UIN Jakarta Sukses Gelar PBAK 2025

Sesi foto bersama pemateri PBAK Kessos 2025. Sumber. Dok. Pribadi Mahasiswa baru dari Jurusan Kesejahteraan Sosial (Kessos) dan Bimbingan Penyuluhan Islam (PMI) mengikuti hari terakhir Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) pada Jumat (29/8). Kegiatan ini mengusung tema berbeda di tiap jurusan, namun memiliki tujuan sama, yakni membentuk generasi muda yang adaptif dan solutif di era digital. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan siap mengabdi dengan hati nurani sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan zaman. Ketua pelaksana PBAK Kessos 2025, Muhammad Yazid, menjelaskan bahwa kegiatan bertajuk “Membangun Mahasiswa Kesejahteraan Sosial yang Responsif dan Inklusif di Era Digital bagi Kelompok Rentan” menekankan pentingnya sikap responsif dan inklusif di tengah perkembangan digital. Tema ini dipilih karena digitalisasi memberikan dampak besar, baik positif maupun negatif, yang kemudian dikupas secara mendalam oleh para ahli di bidangnya. “Mahasiswa baru diharapkan mampu mengambil pelajaran dari materi yang diberikan serta membekali diri untuk menghadapi era digital dengan penuh tanggung jawab. Selain itu, para mahasiswa juga diharapkan tetap bersemangat dan berjuang, karena PBAK hanyalah langkah awal dari perjalanan panjang di dunia perkuliahan,” jelasnya. Ketua pelaksana PBAK BPI 2025, Ilham Khalid Faqih menyampaikan, tema tahun ini, “Membangun Generasi Penyuluh Muda yang Visioner: Berpikir Digital, Bertindak Solutif, Mengabdi dengan Hati”, dirancang untuk membentuk mahasiswa baru sebagai pribadi yang tangguh di lapangan. Keberhasilan acara tercermin dari antusiasme peserta dalam menyerap setiap materi yang diberikan. Sebagai penutup, ditayangkan video throwback dari tim dokumentasi yang menghadirkan momen-momen berkesan sepanjang rangkaian kegiatan. “Harapannya, PBAK di tahun berikutnya dapat terlaksana dengan lebih baik. Mahasiswa baru juga diingatkan untuk terus bersemangat menapaki perjalanan panjang di dunia perkuliahan, karena kini mereka bukan lagi calon mahasiswa, melainkan bagian dari keluarga besar kampus,” ujarnya. (Safia Salsabila Putri)

Dorong Mahasiswa Jadi Agen Perubahan, PBAK Jurnalistik dan PMI Fokus dalam Digitalisasi

Berlangsungnya sharing session with lecture PBAK PMI UIN Jakarta. Sumber. Dok. Pribadi Isu digitalisasi di era modern menjadi perhatian utama dalam Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Jakarta, Jumat (29/8). Dua program studi, Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) dan Jurnalistik, turut menyoroti perkembangan teknologi 5.0 dengan mengusung tema yang relevan dengan tantangan zaman. Ketua pelaksana PBAK Jurnalistik 2025, Reza Pahlevi menuturkan, Jurusan Jurnalistik memilih tema “Jurnalistik 5.0” sebagai bentuk respons terhadap hadirnya kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) yang kian memengaruhi dunia pers. Kehadiran teknologi dinilai membawa peluang sekaligus tantangan, terutama karena AI dapat menghasilkan teks berita tetapi juga berpotensi menyebarkan hoaks.  “AI memang bisa menulis, tetapi tidak akan pernah menggantikan peran jurnalis. Karena hanya jurnalis yang turun ke lapangan, menyaksikan fakta, dan melakukan verifikasi sebelum berita disajikan kepada publik,” tuturnya. Ketua Pelaksana PBAK PMI 2025,  Dika Saputra mengungkapkan, jurusan PMI mengusung tema “Transformasi Sosial Melalui Pemberdayaan Digital Bagi Generasi Emas Indonesia.” Tema tersebut dipilih karena ranah sosial dinilai sebagai fokus utama PMI, sehingga mahasiswa baru diarahkan untuk menjadi agen perubahan yang mampu memanfaatkan teknologi digital bagi masyarakat. “PMI sejak awal memang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat. Melalui digitalisasi, kami ingin mahasiswa baru mampu menjadi agen perubahan dan menjawab isu-isu sosial yang ada di lapangan,” ungkapnya.  Dirinya menambahkan, materi PBAK kedua jurusan PMI dibagi dalam beberapa sesi, mulai dari sharing session with lecture, yang memperkenalkan aspek akademik, budaya, hingga prospek keilmuan masing-masing jurusan. Dengan begitu, mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan pada identitas jurusan, tetapi juga diarahkan untuk memahami relevansi keilmuan mereka dengan tantangan era modern. (Fayruz Zalfa Zahira)

PBAK KPI dan MD UIN Jakarta Bekali Mahasiswa Baru di Era Digital

PBAK KPI yang diselenggarakan di Literacy Park UIN Jakarta. Sumber. Dok. Pribadi Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) serta Manajemen Dakwah (MD) UIN Jakarta sukses menyelenggarakan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) pada Jumat (29/8). Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan akademik, organisasi kemahasiswaan, sekaligus membangun rasa kebersamaan sejak awal perkuliahan. Organizing Committee (OC) PBAK KPI 2025, Muhammad Rhazwa Ihsan Kamil menyampaikan, kegiatan ini bertujuan memperkenalkan lingkungan akademik sekaligus memberi gambaran awal agar mahasiswa lebih siap beradaptasi. Mengusung tema “Transformasi Mahasiswa KPI melalui Media dan Komunikasi Kreatif di Era Digitalisasi”, acara ini diharapkan menjadi sarana yang membangun rasa percaya diri bagi mahasiswa baru. “Selain itu, rangkaian kegiatan PBAK juga mencakup sosialisasi public speaking, broadcasting, dan pengenalan organisasi. Seluruh aktivitas ini diharapkan membantu mahasiswa baru mengembangkan potensi sekaligus merasa nyaman di lingkungan barunya. Jika ada pertanyaan, mahasiswa baru dipersilakan berdiskusi dengan kakak tingkat sebagai bentuk dukungan dan pendampingan,” ujarnya. OC PBAK MD 2025, Nasir Rustin Mubarok menjelaskan, PBAK diselenggarakan agar mahasiswa baru dapat merasakan, mengenal, dan mendalami budaya akademik serta lingkungan di jurusan MD. Dengan mengusung tema “Menumbuhkan Mahasiswa yang Inklusif, Progresif, dan Visioner Menuju Generasi Emas serta Menjadi Pemimpin Tangguh di Era Transformasi Digital” dan tagline “Satu Langkah Sejuta Makna, Bersama MD Menuju Bahagia”, kegiatan ini menjadi langkah awal dalam memahami dunia kampus sekaligus membentuk kecerdasan akademik dan kematangan karakter. “PBAK Jurusan MD dipandang sebagai wadah penting untuk memperluas wawasan dan menambah pengetahuan baru bagi mahasiswa baru. Melalui rangkaian kegiatan yang diselenggarakan, diharapkan tumbuh semangat kebersamaan, solidaritas, dan rasa tanggung jawab yang mampu menguatkan langkah mereka dalam perjalanan akademik,” jelasnya. (Nadine Fadila Azka)

PBAK 2025: UIN Jakarta Ajak Mahasiswa Baru Bersiap Sambut Indonesia Emas

Grand opening PBAK UIN Jakarta 2025. Sumber. Dok. Pribadi UIN Jakarta resmi membuka Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2025 dengan tema “Mahasiswa Masa Kini untuk Dunia Masa Depan, Menebar Cinta Merawat Semesta”. Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Triguna UIN Jakarta dan Auditori Harun Nasution (Harnas), pada Selasa (26/8), dihadiri rektor, pimpinan universitas, tokoh nasional, dan ribuan mahasiswa baru. Ketua Pelaksana PBAK, Adinda Salsabilla menjelaskan, tema yang diangkat dilatarbelakangi oleh kondisi dunia yang penuh tantangan serta persiapan menuju Indonesia Emas 2045. Mahasiswa baru diharapkan mampu menghadapi perkembangan digitalisasi, ekonomi, dan kreativitas dengan kesiapan yang matang. “Perbedaan PBAK tahun ini tampak dari rangkaian acara yang menghadirkan banyak menteri sebagai pembicara. Harapan besar juga disampaikan agar mahasiswa baru belajar dengan sungguh-sungguh serta menjauhi narasi negatif yang berpotensi merusak citra mahasiswa,” jelasnya. Salah satu Mahasiswa Baru (Maba) UIN Jakarta, Amanda Setiawan, mengungkapkan rasa takjub karena terpilih menjadi perwakilan penyematan dan disambut langsung oleh rektor serta menteri. Kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga sekaligus motivasi untuk lebih bersemangat dalam perkuliahan dan organisasi. “Rangkaian acara juga terlihat meriah dengan berbagai penampilan dan sesi inspiratif yang menarik perhatian mahasiswa baru. Kehadiran Jerome Polin sebagai narasumber semakin menambah antusiasme karena pesan yang dibawanya mampu memotivasi mahasiswa untuk lebih giat belajar dan berprestasi,” ungkapnya. (Maura Maharani Rizky)