K-Netz Vs SEAblings: Ketika Bahasa Menjadi Kunci Perdebatan

Konser Day6 10th Anniversary “The Decade”, Kuala Lumpur. Sumber. Instagram @day6kilogram


Balamuda, tahu nggak sih? Sejak Januari lalu, perdebatan sosial media antara netizen Korea Selatan (K-Netz) dan netizen Malaysia, kini meluas hingga melibatkan negara-negara Asia Tenggara lainnya (SEAblings). Nah, konflik ini bermula dari pelanggaran aturan penggunaan kamera profesional, dalam konser band Day6 di Malaysia oleh oknum penggemar asal Korea.

Perbedaan perspektif etika tersebut, Balamuda, nyatanya berkepanjangan hingga menyenggol isu identitas nasional dan kebanggaan budaya antarnegara. Konflik digital ini semakin memanas, karena perbedaan komunikasi antara kelompok SEAblings memilih Bahasa Inggris demi jangkauan global, sementara K-Netz setia pada Bahasa Korea sebagai simbol jati diri.

Fenomena ini menjadi alarm bagi, Balamuda, mengenai keseimbangan penguasaan bahasa internasional dan pelestarian bahasa lokal di era globalisasi. Penggunaan istilah asing yang berlebihan, akan memicu kekhawatiran lunturnya jati diri bangsa. Hal tersebut sering terjadi karena bahasa nasional terkadang dianggap kurang bergengsi dibanding istilah asing, padahal bahasa adalah pondasi utama identitas nasional yang harus tetap dijaga.

Sebagai langkah nyata, Balamuda punya peran besar menjaga keberlangsungan Bahasa Indonesia agar tetap hidup melalui karya kreatif, konten digital, hingga diskusi publik berbobot. Perdebatan K-Netz dan SEAblings menyadarkan, Balamuda, bahwa meskipun tuntutan menguasai bahasa internasional, kebanggaan terhadap bahasa ibu tidak boleh goyah.

 (Syadwiena Rayapuan Aglanafaira)

Syadwiena Rayapuan Aglanafaira
Syadwiena Rayapuan Aglanafaira
Articles: 14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *