
Hari Sarjana Nasional 2025 menjadi pengingat akan pentingnya solusi strategis untuk mengatasi tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi. uinjkt.ac.id
Hari Sarjana Nasional yang diperingati pada Senin (29/09), menjadi momentum kritik mahasiswa terhadap realitas lulusan perguruan tinggi. Di tengah gelar akademik yang seharusnya membuka peluang kerja, data Badan Pusat Statistik (BPS) justru mencatat lebih dari satu juta sarjana menganggur dengan tingkat pengangguran terbuka 6,23 persen.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Manajemen Dakwah (MD), semester tiga, Ridho Alrasyid mengungkapkan, Peringatan Hari Sarjana Nasional sebagai momentum penting yang patut diapresiasi karena menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki harapan untuk terus maju menuju Indonesia Emas 2045. Namun, di sisi lain masih banyak lulusan perguruan tinggi yang menghadapi kenyataan pahit menganggur di tanah air.
“Yang terpenting dari mahasiswa bukanlah gelar semata, melainkan keterampilan dan kompetensi yang dimiliki. Saat ini banyak orang lebih mengutamakan gelar S1, S2, atau S3, padahal yang harus dikembangkan adalah bakat, minat, dan kemampuan agar benar-benar mampu meraih kesuksesan di masa depan,” ungkapnya.
Tenaga Pendidik (TENDIK) FISIP UIN Jakarta, Yanti menuturkan, Peringatan Hari Sarjana Nasional masih kurang tersosialisasi sehingga belum mendapat perhatian luas. Padahal, momentum ini penting untuk merefleksikan kondisi pendidikan tinggi di Indonesia yang masih menghadapi persoalan serius, termasuk tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi.
“Banyak sarjana, tetapi peluang kerja masih sempit. Kesempatan ada, namun sering terkendala kolusi dan modal. Akibatnya, tenaga kerja berpotensi lebih memilih mencari penghidupan di luar negeri karena kesejahteraannya lebih terjamin. Pendidikan kita pun masih tertinggal, bahkan jumlah masyarakat yang lulus perguruan tinggi baru sekitar 10,2 persen,” tuturnya.
(Fayruz Zalfa Zahira)





