
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti. Sumber. Mediadelegasi.id
Gerakan Numerasi Nasional yang diluncurkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyoroti lemahnya kemampuan numerasi anak-anak Indonesia. Skor Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan pembelajaran matematika di sekolah masih dianggap menakutkan, sehingga keterampilan dasar seperti membaca jam analog terabaikan dan siswa semakin bergantung pada teknologi.
Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI), prodi Dirasat Islamiyah, semester sembilan, Ahmad Mulham Dawami mengatakan, fenomena banyak siswa sekolah dasar yang belum mampu membaca jam analog merupakan sinyal adanya kelemahan dalam sistem pendidikan. Pemahaman konsep dasar matematika dinilai belum benar-benar dikuasai, salah satunya akibat kebijakan kenaikan kelas tanpa syarat yang membuat peserta didik tetap diluluskan meski belum mampu mengikuti pelajaran. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan minat dan motivasi belajar anak.
“Selain faktor kebijakan, pengaruh gawai dan permainan digital juga menjadi distraksi besar yang membuat anak kehilangan fokus, terutama dalam pembelajaran berhitung. Situasi ini menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan kenaikan kelas otomatis karena dampaknya turut berkontribusi pada lemahnya kemampuan numerasi dasar siswa,” ucapnya.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Program Studi (Prodi) Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), semester lima, Aist Istiqomah menuturkan, banyak anak Indonesia tidak bisa membaca jam analog karena lebih terbiasa menggunakan jam digital. Padahal keterampilan tersebut penting untuk melatih logika, berhitung, serta memahami posisi dan sudut dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini dapat diantisipasi melalui berbagai bentuk pelatihan, termasuk yang dilakukan dari rumah.
“Rencana Mendikdasmen membuat kelas khusus pembelajaran jam analog dinilai sebagai langkah tepat. Kebijakan tersebut dianggap mampu membantu anak menguasai keterampilan dasar sekaligus mengurangi ketergantungan pada gawai sehingga proses belajar dapat berlangsung lebih efektif,” tuturnya.
(Fayruz Zalfa Zahira)





