
PJJ yang dilakukan beberapa instansi pendidikan, hindari paparan abu vulkanik. sumber. detik.com
Pada Minggu (6/9), Wakil Menteri Pendidikan Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, mengimbau perguruan tinggi untuk segera melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring. Bagi daerah yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK), imbauan bertujuan untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan sivitas akademika.
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), jurusan Ilmu Hukum (IH), semester lima, Kindi Ahnaf mengungkapkan, pemberlakuan PJJ selama dua hari sudah cukup efektif untuk menangani situasi saat ini. Namun, keterlambatan Surat Keputusan (SK) Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, menimbulkan kebingungan bagi beberapa dosen dan mahasiswa.
“Seharusnya informasi yang diberikan bisa lebih cepat, agar mahasiswa dan dosen dapat mempersiapkan PJJ lebih matang. Dengan mengetahui kondisi bahaya abu vulkanik, mahasiswa dapat menjalani perkuliahan online dengan aman,” ungkapnya.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Jurnalistik, semester tiga, Aqilah Mutia Khansa menuturkan, kesehatan akademika harus menjadi prioritas utama di tengah kondisi darurat bencana. Meskipun peralihan ke sistem daring adalah langkah yang tepat, kurangnya interaksi dosen dan mahasiswa menjadi tantangan.
“Sebagai pembelajaran di awal semester, PJJ sangat berpengaruh apalagi untuk mahasiswa baru. Sehingga mereka masih butuh menyesuaikan diri dan interaksi dengan dosen bagi mereka, tidak bisa semaksimal pembelajaran tatap muka,” tuturnya
(Syadwiena Rayapuan Aglanafaira)





