
Manusia yang tak lepas dari media sosial di era algoritma digital. sumber. kumparan.com
Analis media sosial (Medsos), Rustika Herlambang menilai dominasi algoritma dalam mempercepat penyebaran isu di ruang publik, menuntut masyarakat untuk lebih tanggap dalam meningkatkan literasi digital. Pada Rabu (8/7), bijak bermain Medsos mengharuskan publik memfilter arus informasi secara mandiri, agar terhindar dari paparan konten yang menyesatkan di tengah pesatnya dinamika Medsos.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), semester delapan, Anisya Rahma mengungkapkan, bagaimana algoritma Medsos secara signifikan mendikte arus konten harian, yang berakhir pada cepatnya suatu isu yang penting atau tidak menjadi viral di tengah masyarakat.
“Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap pengguna untuk menumbuhkan sikap kritis dengan melakukan verifikasi kebenaran informasi melalui sumber yang tepercaya. Sehingga sebelum memutuskan untuk memercayai, tidak terjebak dalam disinformasi,” ungkapnya.
Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST), jurusan Kimia, semester enam, Fauzan Bahrudin menuturkan, meskipun algoritma memiliki sisi positif dalam mempermudah personalisasi konten sesuai minat pengguna, sistem tersebut berisiko menciptakan batasan sudut pandang yang sempit akibat paparan informasi yang seragam.
“Mengatasi efek isolasi informasi tersebut, saya menyarankan agar pengguna memperluas wawasan referensi dan membuka diri untuk berdiskusi dengan berbagai pihak yang memiliki perspektif berbeda sehingga kita tidak terkotak-kotak pada satu pandangan saja,” tuturnya.
(Muhammad Raffa Al Farezzy)





