
Kendaraan listrik menempati posisinya sebagai mesin pertumbuhan baru. sumber. kontan.co.id
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportas, dan Elektronika (ILMATE), Kementerian Perindustrian (Kemenpri), Setia Diarta menegaskan adanya pergeseran signifikan konsumen Indonesia, ke arah kendaraan hemat energi. Pada Rabu (22/4), perubahan tren pada penguatan ekosistem kendaraan listrik, menuntut kesiapan industri dalam negeri untuk mandiri secara produksi dan teknologi, guna menepis ketergantungan pada investasi asing.
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), jurusan Ilmu Hukum (IH), semester delapan, Fikri Adie Fadhillah menututkan, peralihannya merupakan langkah menekan angka emisi, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Meski industri otomotif nasional mulai menunjukkan kesiapannya, sektor baterai dan rantai pasokan masih memerlukan penguatan.
“Potensi pasar dalam negeri yang besar harus menjadi penggerak utama, sehingga kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi mampu berdaulat dalam memproduksi teknologi ramah lingkungan sendiri,” tuturnya.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Kesejahteraan Sosial (KESSOS), semester empat, Henry Azrieliansyah menyatakan, kendaraan listrik masih berada di tahap awal, karena penyebaran infrastruktur penunjang yang belum merata. Maka, perlunya evaluasi terhadap kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar tetap adil.
“Pemerintah perlu memastikan bahwa regulasi yang ada tidak hanya mendorong percepatan industri, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem yang inklusif. Dengan begitu, manfaat dari transportasi hijau ini dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali,” katanya.
(Muhammad Raffa Al Farezzy)





