Wujudkan kesetaraan kerja, pada Senin (11/5), Kementerian Ketenagakerjaan (KEMNAKER), menggelar seleksi khusus bagi lulusan sarjana penyandang disabilitas tuli. Program tersebut hadir sebagai solusi pemerintah, menjawab tantangan serapan tenaga kerja disabilitas. Meskipun begitu, urgensi peningkatan fasilitas pendukung, baik di lingkungan kampus maupun dunia kerja tetap menjadi catatan guna menciptakan ekosistem inklusif yang berkelanjutan.
Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST), jurusan Teknik Informatika (TI), semester enam, Dewi Saidah mengungkapkan, terbatasnya sarana penunjang bagi mahasiswa tuli dan kendala komunikasi yang ditemui di lingkungan profesional. Maka, sinergi antara kebijakan pemerintah dan kesiapan sektor swasta menjadi kunci.
”Sehingga penguatan keterampilan yang dibarengi dengan kolaborasi, antara pemerintah dan dunia industri sangat perlu ditingkatkan agar tercipta lingkungan kerja yang benar-benar inklusif bagi semua kalangan,” ungkapnya.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), semester empat, Muhammad Rikza Ilham menuturkan, meskipun fasilitas di area kampus belum sepenuhnya memadai, program seleksi kerja yang diinisiasi pemerintah membawa dampak psikologis yang sangat positif.
”Di tengah krisis lowongan pekerjaan yang kompetitif, inisiatif tersebut membuktikan bahwa aspirasi kami untuk mendapatkan akses kerja yang setara, mulai didengar dan diwujudkan secara sistematis,” tuturnya.
(Jiddan Akrom Ramadhan)





