
Seorang penyair membacakan puisi karya Chairil Anwar. sumber. tirto.id
Transformasi teknologi terbukti membuka ruang kreativitas tanpa batas, dalam Peringatan Hari Puisi Nasional, pada Selasa (28/4). Pegiat sastra tanah air memperluas akses karya lewat platform digital, guna menjangkau generasi muda. Meski begitu, tantangan besar membayangi dunia literasi digital, di mana para penyair dituntut untuk tetap mempertahankan kedalaman isi di tengah gempuran tren estetika visual yang sering kali lebih mengutamakan popularitas.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), semester enam, Muhammad Qemal Ferdi Yudistira menuturkan, esensi puisi sedang menghadapi tantangan berupa pergeseran makna, akibat dominasi algoritma dan tren media sosial. Sehingga, potensi media digital tetap tidak bisa diabaikan begitu saja.
“Kita sedang berada di titik kedalaman rasa dalam bait puisi, sering kali kalah oleh tuntutan visual yang estetik. Para penyair harus lebih berani memprioritaskan kejujuran emosional dan kontemplasi batin, agar puisi tidak sekadar menjadi teks indah yang hampa makna,” tuturnya.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), semester enam, Muhammad Haikal Hibrizi menjelaskan, mahasiswa harus bisa mengoptimalkan media sosial, sebagai sarana perluasan jangkauan sastra. Kreativitas maupun kualitas kepenulisan, dapat berkembang melalui proses pembelajaran dan adaptasi digital.
“Kami tidak hanya sekedar menyebarkan karya sastra secara luas, tetapi juga membangun ekosistem di mana setiap penulis muda dapat mengasah tajamnya pena. Sehingga, generasi muda dapat berinteraksi dan membangun kritik yang jelas,” jelasnya.
(Jiddan Akrom Ramadhan)





