
Salah satu potret transportasi umum yang sering melintas di Jakarta. sumber. jakarta.co
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, Promono Anung Wibowo, memperingati Hari Transportasi Nasional pada Jumat (24/4) dengan membebaskan biaya seluruh layanan transportasi umum. Langkah tersebut mendorong masyarakat beralih dan meningkatkan jumlah pengguna transportasi publik, sekaligus memberi solusi untuk mengurai titik kemacetan.
Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST), jurusan Kimia, semester enam, Dinda Putri Amelia menuturkan, kebijakan tarif gratis efektif memicu antusiasme warga, untuk beralih ke transportasi publik. Meski begitu, khawatir keberlanjutannya jika tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan.
“Meskipun inisiatif ini sangat bagus, faktor kenyamanan fisik di dalam kendaraan adalah daya tarik utama yang harus dijaga. Pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap keluhan seperti terbatasnya jumlah armada dan durasi tunggu yang terlalu lama, karena konsistensi warga dalam menggunakan transportasi umum bergantung pada efisiensi waktu di jalan,” tuturnya.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), semester empat, Syafira mengungkapkan, aspek integrasi infrastruktur sudah menunjukkan kemajuan, melalui koneksi antara halte dan stasiun. Sehingga, kemudahan akses merupakan kunci bagi masyarakat untuk memilih transportasi umum.
“Saya sangat mengapresiasi halte yang kini sudah terintegrasi langsung dengan stasiun, namun kedepannya saya berharap pemerintah bisa lebih progresif dengan memperbanyak unit armada. Dan bagi saya, penting untuk menambah gerbong khusus wanita demi menjamin keamanan dan kenyamanan yang lebih personal bagi para pengguna perempuan,” ungkapnya.
(Shakila Najla Azzahra Ramadhani)





