
Potret pemain di Gala Premiere “Tunggu Aku Sukses Nanti”. sumber. kompas.com
Balamuda, tahu nggak, akhir-akhir ini linimasa media sosial ramai membicarakan film terbaru, berjudul “Tunggu Aku Sukses Nanti”. Soundtrack film yang digunakan, hingga potongan adegan yang menyentuh hati membuat film tersebut viral karena dianggap mewakili perasaan anak muda. Bahkan,nggak sedikit yang ngerasa “ini gue banget”.
Kalau diperhatikan lagi, Balamuda, film tersebut tuh menggambarkan realita yang dekat banget sama keseharian kita. Di era sekarang, tekanan buat terlihat sukses itu makin terasa kuat, apalagi dengan adanya media sosial. Standar kesuksesan seolah jadi makin tinggi dan kadang nggak realistis. Kita jadi sering bandingin diri sendiri sama orang lain yang terlihat sudah lebih dulu berhasil, padahal perjalanan setiap orang itu berbeda-beda.
Tentu, ya, Balamuda, tekanan tersebut memaksa seseorang untuk mengejar target yang sebenarnya tidak sesuai dengan keinginan hati, hanya demi mendapatkan validasi di mata orang lain, yang pada akhirnya memicu rasa tertekan yang mendalam. Film tersebut cerminan dari kegelisahan yang banyak dirasakan, bahwa rasa cemas adalah hal yang wajar. Namun, ketika dibiarkan berlarut-larut, perasaan itu justru bisa menghambat langkah diri sendiri.
Selama ini, banyak orang menganggap sukses itu identik sama uang, jabatan, atau pencapaian besar. Padahal, belum tentu semua orang menginginkan hal yang sama. Jadi, secara nggak langsung ngajak kita buat mempertanyakannya lagi, apakah standar sukses yang kita kejar benar-benar berasal dari diri sendiri, atau cuma karena tuntutan lingkungan. Makanya, banyak yang akhirnya sadar kalau sukses nggak selalu harus terlihat “wah”, tapi bisa juga tentang merasa cukup dan bahagia sama apa yang dijalani.
Jadi, Balamuda, film ini bukan cuma soal cerita, tapi juga refleksi dari kehidupan banyak anak muda sekarang. Pokoknya buat Balamuda inget ya, kita nggak harus selalu cepat sukses, tapi yang penting tetap melangkah dan tidak berhenti mencoba meski dalam tempo yang perlahan.
(Jiddan Akrom Ramadhan)





