107.9 RDKFM

Khawatirkan Ketergantungan Asing, Rencana PLTS dengan China Tuai Sorotan

Salah satu pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di negara China. Sumber. esgnow.republika.co.id Kerja sama Indonesia dan China dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt pada 2025 menuai sorotan mahasiswa. Proyek ini dinilai berpotensi menimbulkan ketergantungan pada teknologi dan pasokan komponen luar negeri sehingga diperlukan strategi khusus untuk menjaga kedaulatan energi nasional. Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Program Studi (Prodi) Kesejahteraan Sosial (Kessos) semester lima, Nur Istibsyaroh menuturkan, pemerintah perlu memastikan proyek PLTS berkapasitas 100 gigawatt berjalan sesuai koridor sekaligus melibatkan sumber daya manusia dalam negeri. Indonesia dinilai memiliki banyak generasi muda berkeahlian yang sering terabaikan akibat dominasi pihak asing, sehingga kesadaran masyarakat untuk mengawasi jalannya proyek penting agar manfaatnya mencakup transfer pengetahuan dan peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal. “Tingginya angka pengangguran seharusnya menjadi pertimbangan dalam perencanaan. Karena itu, program strategis nasional diharapkan memprioritaskan pemberdayaan generasi muda dan penciptaan lapangan kerja, sebab pelibatan tenaga lokal lebih berdampak langsung bagi perekonomian dibanding terus bergantung pada mitra asing,” tuturnya. Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), prodi Hukum Tata Negara (HTN), semester empat, Rikza Anung Anindita mengatakan, pemerintah perlu memastikan pembangunan PLTS 100 gigawatt tidak hanya berjalan sesuai koridor, tetapi juga melibatkan sumber daya manusia dalam negeri secara optimal. Kesadaran politik masyarakat dinilai penting untuk mengawasi jalannya proyek agar manfaatnya tidak terbatas pada infrastruktur, melainkan juga mencakup transfer pengetahuan serta peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal. “Tingginya angka pengangguran harus menjadi fokus dalam perencanaan. Karena itu, program strategis nasional diharapkan memberi prioritas pada pemberdayaan generasi muda dan penciptaan lapangan kerja, sebab pelibatan tenaga lokal dinilai lebih relevan sekaligus memberi dampak nyata bagi perekonomian dibanding terus mengandalkan mitra asing dalam pembangunan energi,” ucapnya. (Fayruz Zalfa Zahira)