
Faskes di Pulau Masela & Babar, Maluku Barat Daya Terlihat Rusak Total
Delapan tahun tanpa dokter tetap dan fasilitas kesehatan yang layak membuat Masyarakat di Pulau Babar & Masela, Maluku Barat Daya hidup di ujung risiko. Dinding retak, atap bocor, dan tak ada tenaga medis tetap membuat pelayanan kesehatan praktis terhenti.
“Kalau sakit, kami harus tunggu petugas datang sebulan sekali, atau pergi ke Saumlaki lewat laut berjam-jam,” kata Fransina Letlora, Kader Kesehatan setempat.
Menurut data Kementerian Kesehatan 2021, rasio dokter umum di Indonesia hanya 0,4 per 1.000 penduduk dan dokter spesialis 0,1 per 1.000. Mayoritas Dokter justru berada di kota besar, membuat pulau terluar nyaris tak tersentuh tenaga medis tetap.
Kondisi geografis seperti cuaca buruk dan biaya transportasi tinggi membuat warga sulit mendapatkan obat maupun penanganan darurat.

Kapal Gandha Nusantara 02 Yang Sudah Terkenal Melayani Pelayanan Kesehatan Bergerak di Pulau Terluar Indonesia.
Situasi serupa terjadi di wilayah lain. Di Madura bagian selatan, keterbatasan fasilitas di pulau-pulau kecil akhirnya mendorong pemerintah mengoperasikan Kapal Gandha Nusantara Sehat 02.
Puskesmas terapung atau dikenal pelayanan Kesehatan bergerak dengan dokter, perawat, dan fasilitas bedah minor. Kapal ini rutin mengunjungi pulau-pulau terluar dekat pulau jawa untuk memberikan layanan medis langsung.
Keberhasilan program ini di Madura memunculkan desakan warga Maluku Barat Daya agar model serupa dihadirkan di wilayah mereka. “Kalau Madura bisa dapat kapal kesehatan, kami di sini juga butuh. Jangan tunggu korban baru pemerintah sibuk bergerak,” ujar Markus Ririmasse, kader Kesehatan lainnya.
Tekanan dari masyarakat mulai mendapat respon. Pemerintah menyatakan sedang mengkaji penambahan armada layanan kesehatan bergerak untuk wilayah timur, termasuk Maluku Barat Daya, serta memperluas akses telemedicine.
Krisis fasilitas kesehatan di Maluku bukan sekadar masalah medis, tetapi isu sosial yang mendorong lahirnya gerakan warga untuk menuntut pemerataan layanan kesehatan di wilayah terluar dan ini merupakan persoalan nasional yang membutuhkan langkah nyata dan merata.
(Adipatra Kenaro Wicaksana)




