
Potret para driver yang sedang menunggu pesanan customer. sumber. bisnis.com
Balamuda, tau nggak sih, memasuki pertengahan Ramadhan 2026 ramai dibicarakan fenomena krisis Ojek Online (Ojol). Fenomena krisis tersebut ramai dibahas karena menyulitkan masyarakat, terutama saat jam sibuk atau menjelang berbuka. Pelanggan sering menunggu lama untuk mendapatkan driver, bahkan setelah mendapatkannya posisi driver tidak bergerak. Sehingga waktu tunggu Balamuda, semakin lama sampai harus menunda waktu berbuka sambil menunggu pesanan datang. Kira-kira, kenapa ya, Balamuda?
Nah, fenomena tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, Balamuda seperti tingginya permintaan menjelang berbuka puasa tidak sebanding dengan jumlah driver, sistem algoritma yang memberikan lokasi jemput atau restoran yang terlalu jauh dari posisi driver, serta banyak juga driver yang menolak pesanan hemat karena potongan aplikasi yang mencekik. Yup, Balamuda, ternyata uang yang kita bayar untuk driver masih harus dipotong oleh aplikasi, yang menyebabkan pendapatan driver semakin sedikit.
Raden Igun Wicaksono dari Garda Indonesia berpendapat, idealnya potongan hanya sekitar 10-15%, namun di lapangan bisa mencapai 50%. Hal tersebut menyebabkan driver enggan mengambil “Orderan Hemat”, karena sisa pendapatan yang diterima terlalu kecil. Sehingga, ketika driver menerima pesanan, separuh hasilnya masuk ke aplikasi. Maka, karena kondisi tersebut, Balamuda, Ojol kehilangan semangat menerima pesanan.
Ternyata, Balamuda, berita tersebut sudah didengar oleh Director of Mobility, Food, and Logistic, Grab Indonesia, Tyas Widyastuti, loh. Menurutnya, tingginya permintaan dan terbatasnya pengemudi karena kepadatan lalu lintas yang meningkat, sehingga akan dilakukan penyesuaian operasional. Upaya tersebut bertujuan menjaga ketersediaan layanan, agar tetap stabil dengan harapan kualitas layanan bagi pengguna tetap terjaga.
Selain itu, Balamuda, Head of Driver Operations Gojek, Bambang Adi Wirawan berpendapat, krisis Ojol dipengaruhi oleh cuaca buruk, sehingga mengurangi jumlah mitra pengemudi di lapangan karena cuaca buruk menyebabkan genangan di beberapa titik. Maka, Gojek menganjurkan pengguna untuk memperhitungkan waktu perjalanan selama jam sibuk. Hal terebut dianjurkan agar proses pemesanan pelanggan dapat dilakukan dengan lebih terencana, serta membantu mengurangi kepadatan lalu lintas.
Pada akhirnya, Balamuda, fenomena krisis Ojol mengingatkan bahwa keseimbangan antara tingginya permintaan dan ketersediaan layanan sangat penting. Dibalik perjalanan pelanggan yang mudah karena Ojol, kesejahteraan driver juga punya peran dalam menentukan kualitas layanan. Maka melihat kondisi yang terjadi, wajar kalau kesejahteraan driver mulai dipertanyakan sehingga penting adanya solusi yang adil agar layanan tetap optimal tanpa merugikan salah satu pihak, Balamuda.
(Shakila Najla Azzahra Ramadhani)





