
António Guterres pertegas keadilan, untuk perempuan dan anak di seluruh dunia. Sumber. telusur.co.id
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (SEKJEN PBB), António Guterres menyampaikan seruan mewujudkan keadilan nyata bagi perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia. Dalam peringatan Hari Perempuan Internasional pada (8/3), menyoroti masih kuatnya diskriminasi serta lemahnya penegakan hukum global, yang menghambat akses korban terhadap keadilan.
Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), jurusan Ilmu Perpustakaan (IP), semester delapan, Revalina Aulia mengungkapkan, meskipun regulasi perlindungan perempuan di Indonesia mulai menunjukkan kemajuan, implementasinya masih terikat oleh biaya operasional hukum dan minimnya dukungan lingkungan sosial bagi korban. Maka, tanpa perbaikan sistem, aturan hanya akan menjadi catatan tanpa dampak nyata.
“Pemerintah hukum harus segera memperkuat sistem perlindungan, melalui pendampingan psikologis. Hal tersebut akan mendukung korban, memiliki kekuatan mental untuk menempuh perbaikan proses hukum,” ungkapnya.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), semester empat, Risma Siva Pratiwi menuturkan, keberadaan aturan hukum belum sepenuhnya menyentuh rasa keadilan korban, akibat prosedur yang berbelit. Maka, penanganan kasus di Indonesia perlu evaluasi agar banyak berpihak pada hak-hak korban yang kurang terdengar.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan pasal-pasal hukum, sebab masyarakat juga perlu diedukasi agar berhenti memberi stigma buruk. Sehingga seringkali membuat korban merasa terhakimi, sebelum sempat mendapatkan keadilan,” tuturnya.
(Muhammad Raffa Al Farezzy)





