
Dema UIN jakarta gelar seruan aksi simbolik. Sumber. Dok. Pribadi
Pada Jumat (27/02), tujuh tuntutan disuarakan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Jakarta, mengenai kegagalan keamanan sipil. Di depan gerban keluar UIN Jakarta, aksi yang dilakukan merupakan bentuk belasungkawa, sekaligus desakan mahasiswa terhadap rentetan persoalan yang mengancam hak-hak sipil. Aksi tersebut menegaskan posisi mahasiswa, sebagai penyambung lidah masyarakat, yang kian merasa tidak aman di negeri sendiri.
Ketua Kajian dan Aksi Strategis DEMA UIN Jakarta, Ahmad Varis Farhan menjelaskan, perlu evaluasi menyeluruh terhadap sistem rekrutmen, serta durasi pendidikan aparat keamanan. Pendidikan yang terlalu singkat, berisiko mengabaikan standar profesionalisme dan aspek integritas dalam menjalankan tugas.
“Transformasi dalam proses seleksi, merupakan kunci untuk memastikan setiap personel memiliki kompetensi yang mumpuni. Aparat perlu dikembalikan pada fitrahnya sebagai pelayan publik yang humanis, serta menjunjung tinggi rasa keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali,” jelasnya.
Salah satu Peserta Seruan Aksi Simbolik, Galang Ramadhan menuturkan, partisipasinya dalam aksi simbolik tersebut didasari oleh panggilan nurani dan tanggung jawab moral. Sikap apatis masyarakat terhadap isu keamanan sipil, hanya akan memperburuk keadaan. Maka, perlu ada pengawalan publik yang ketat, agar sistem penegakan hukum dan keamanan berjalan kredibel.
“Tanpa mengurangi nilai norma yang berpotensi merusak masa depan bangsa, sikap kritis kita sebagai warga negara dalam mengawasi setiap kebijakan adalah benteng terakhir. Maka, masyarakat harus memastikan terciptanya sistem keamanan yang profesional dan berpihak pada rakyat,” tuturnya.
(Selgy Deswita Isnaini)








