
Para pemenang penghargaan Perpustakaan FITK Award 2025. uinjkt.ac.id
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) menggelar “Perpustakaan FITK Award 2025” sebagai inisiatif untuk memperkuat budaya literasi mahasiswa di era digital. Ratusan peserta berkompetisi menjadi pembaca paling aktif, tercatat melalui puluhan ribu transaksi peminjaman buku. Ajang ini juga menghadirkan apresiasi dan hadiah bagi para pembaca terbaik, berdasarkan penilaian sistem pencatatan peminjaman yang terintegrasi.
Salah satu Pustakawan FITK, Amrullah Hasbana menjelaskan, menjaga koleksi fisik perpustakaan agar tetap spesifik, relevan, dan sesuai kebutuhan pembelajaran setiap jurusan menjadi prioritas utama. Setiap kunjungan mahasiswa tercatat melalui sistem absensi, sehingga kebiasaan tersebut diharapkan dapat mendorong penyebaran informasi mengenai pentingnya pencatatan data kunjungan di antara mahasiswa.
“Suasana perpustakaan terus diupayakan agar senyaman mungkin bagi para pengunjung. Mahasiswa tetap diperbolehkan berada di dalam ruang perpustakaan meski memasuki jam istirahat, selama mengikuti ketentuan jam layanan operasional yang berlaku. Kebijakan ini dirancang agar mahasiswa dapat belajar dengan nyaman sekaligus menjaga keteraturan layanan,” jelasnya.
Salah Satu pemenang Perpustakaan FITK Award 2025, Septia Pebriyani menuturkan, perpustakaan menjadi tempat paling ideal dan nyaman untuk belajar. Suasana yang dipenuhi buku serta kehadiran banyak pengunjung dinilai membantu mempercepat penyerapan ilmu secara langsung. Akses digital memang memudahkan mahasiswa mencari referensi, namun pengalaman belajar di ruang fisik perpustakaan disebut memberikan nuansa yang tidak tergantikan.
“Setiap mahasiswa memiliki waktu tertentu yang dapat dimanfaatkan untuk membaca buku, baik di berbagai ruang belajar maupun secara khusus di perpustakaan. Dorongan untuk memaksakan langkah menuju perpustakaan diyakini akan membuka kesempatan merasakan suasana belajar yang berbeda dan lebih berfokus. Dengan kebiasaan ini, mahasiswa dapat membangun kedekatan yang lebih kuat dengan bahan bacaan dan lingkungan akademik,” tuturnya.
(Safia Salsabila Putri)








