
Pimpinan ormas Islam tiba di Istana Negara untuk bertemu Presiden Sumber.okezone.com
Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah strategis, perkuat posisi Indonesia di kancah internasional. Mengundang sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam ke Istana Negara, untuk membahas rencana bergabungnya Indonesia ke dalam Board of Peace (BOP). Sebuah langkah diplomasi tersebut diharapkan menjadi senjata baru bagi Indonesia, dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina secara utuh dan berdaulat.
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), jurusan Hukum Keluarga (HK), semester tujuh, Muhammad Luthfi Hariri mengatakan, partisipasi Indonesia dalam forum Board of Peace (BOP) merupakan peluang emas bagi kemerdekaan Palestina. Namun, pemerintah harus memiliki orientasi kebijakan yang tajam guna menangkal stigma negatif di masyarakat. Kejelasan visi diplomatik sangat krusial, agar langkah ini tidak disalahartikan oleh publik maupun dunia internasional.
”Kebijakan ini menimbulkan banyak perbedaan pendapat, yang dapat memengaruhi satu sama lain. Mahasiswa harus mampu menerima setiap perbedaan sudut pandang dalam isu ini, agar tidak terjadi perpecahan di tengah masyarakat,” katanya.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), semester tiga, Achmad Yogi Apriansah menjelaskan, tentu muncul beragam opini masyarakat, terkait bergabungnya Indonesia ke BOP. Masyarakat mendesak pemerintah untuk segera menggencarkan sosialisasi, agar tidak terjadi kekeliruan informasi. Pemahaman yang komprehensif dari pemerintah adalah kunci, agar langkah perdamaian ini didukung sepenuhnya oleh rakyat tanpa ada prasangka.
“Sebagai agen perubahan, mahasiswa wajib berpikir kritis dalam hal tersebut. Maka, menstabilisasi keadaan agar publik tidak mudah terprovokasi, oleh konten menyesatkan yang tersebar luas di media sosial perlu dilakukan,” jelasnya.
(Muhammad Hasbi Mukhtar)





