Polemik Sampah Tangsel: Kelalaian Pemerintah dan Kebiasaan Buruk Masyarakat

Tumpukan sampah di bawah flyover Ciputat yang ditutupi terpal. Sumber. beritatangerangselatankota.go.id


Halo Balamuda, tau gak sih, ada isu yang lagi rame banget tentang sampah berserakan di daerah Tangerang Selatan (Tangsel)? Ya, jadi kalau Balamuda lagi main ke daerah Tangsel, bisa dilihat tuh di bawah flyover Ciputat, Pasar Ciputat, Pasar Jombang, serta di sekitar Puskesmas Serpong 1 banyak banget sampah berderet dan menumpuk. Peristiwa ini turut mengganggu kenyamanan warga  sekitar akibat aroma yang tidak sedap imbas sampah tersebut.

Tapi Balamuda penasaran gak sih, kenapa sampah-sampah tersebut bisa berserakan? Ternyata, menumpuk dan berserakannya sampah disebabkan oleh tidak tersedianya tempat pembuangan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang. Ketiadaan TPA tersebut terjadi karena sedang dilakukan perbaikan, mengingat pada setiap musim hujan sering terjadi longsor yang dapat membahayakan permukiman warga. Oleh karena itu, sebagian warga di Tangsel justru memilih untuk membuang sampah di sepanjang jalan.

Lalu, kira-kira gimana ya Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel menangani peristiwa ini? Bukannya diangkut, tumpukan sampah di pinggir jalan justru ditutup terpal dan disemprot air, seakan disamarkan dari pandangan publik. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan aroma yang tidak sedap, tetapi juga menimbulkan pertanyaan, kenapa hanya ditutup dan di semprot air? kemana anggaran pengangkutan dan pengelolaan sampah selama ini? Padahal, Kota Tangsel merupakan salah satu daerah dengan tingkat kedaruratan sampah tertinggi di Indonesia.

Di sisi lain, pemerintah mengakui bahwa jumlah sampah di Tangsel saat ini sudah tembus sekitar 1.000 ton setiap harinya. Sayangnya, kapasitas pengolahan sampah yang ada belum mampu menampung sebanyak itu. Selain sedang dilakukannya perbaikan tempat, TPA Cipeucang yang selama ini menjadi lokasi utama pembuangan sampah terpaksa ditutup sementara karena sudah kelebihan muatan.

Balamuda, di tengah kritik tajam yang diarahkan ke Pemkot Tangsel, ada satu hal yang perlu kita sadari, sampah yang menumpuk di pinggir jalan tentu tidak muncul begitu saja. Faktanya, masih ada sebagian warga yang menjadikan ruang publik sebagai tempat buang sampah alternatif, apalagi saat layanan pengangkutan sedang tidak maksimal. Di beberapa lokasi penumpukan, warga sekitar bahkan mengaku sampah kerap dibuang pada malam hari, di luar jam kerja petugas kebersihan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan buang sampah sembarangan masih saja terjadi meskipun sudah sering dilarang.

Kondisi ini akhirnya membentuk lingkaran masalah. Ketika pengangkutan sampah terhambat akibat keterbatasan armada atau persoalan TPA, sebagian warga memilih membuang sampah di pinggir jalan. Saat sampah sudah menumpuk, pemerintah kota dinilai lambat dan kurang tegas menanganinya, sehingga terkesan membiarkan masalah. Langkah sementara seperti menyemprot air atau menutup sampah dengan terpal pun menuai kritik karena dianggap tidak menyelesaikan akar masalah dan justru memberi kesan bahwa penumpukan sampah di ruang publik masih dapat ditoleransi.

Balamuda, masalah sampah di Tangsel pada akhirnya mencerminkan persoalan klasik kota besar, saat kebiasaan warga yang belum tertib bertemu dengan pengelolaan pemerintah yang belum maksimal, dampaknya bukan cuma tumpukan sampah, tapi juga menurunnya kepercayaan publik dan kualitas hidup di ruang kota. Namun di sisi lain, Pemkot Tangsel telah meminta maaf kepada masyarakat atas kejadian tersebut dan berjanji akan mengangkut seluruh sampah dijalanan sebelum akhir tahun 2025.

(Mahendra Dewa Asmara)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *