
Diskusi bersama produser film Seribu Payung Hitam. Sumber. Dok. Pribadi
Pada Jumat (28/11), Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) bekerja sama dengan Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Ushuluddin (FU) UIN Jakarta menggelar nonton bersama film Seribu Payung Hitam dan Sisanya Rindu (One Thousand Black Umbrellas) di Teater Lantai Empat FU. Film yang diproduseri Erwin Arnada itu mengangkat isu politik sekaligus menyingkap kembali praktik penculikan wartawan yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar.
Salah satu peserta nonton bareng, Fitri Aditya Putri menyampaikan, film ini memberikan kesan kuat karena mampu mendorong masyarakat lebih peduli terhadap isu kemanusiaan. Tayangan itu juga memunculkan keberanian untuk menyuarakan berbagai keresahan terkait kebijakan yang berpotensi merugikan banyak orang.
“Kita sebagai mahasiswa punya peran besar untuk menyuarakan keresahan masyarakat dan membantu mencari jalan keluar dari persoalan yang mereka hadapi. Dari film ini, rasa peduli terhadap sesama semakin terasa, dan itu menjadi dorongan bagi kita untuk terus memperjuangkan hak-hak kemanusiaan,” ujarnya.
Produser film Seribu Payung Hitam dan Sisanya Rindu, Erwin Arnada menjelaskan, film ini sempat diajukan untuk tayang di bioskop, namun tidak mendapat izin karena memuat isu politik yang sensitif, khususnya berkaitan dengan hak asasi manusia (HAM) dan persoalan kemanusiaan. Kondisi tersebut membuat film ini akhirnya diputar di berbagai kampus sebagai ruang alternatif untuk membuka diskusi publik yang lebih luas.
“Dalam film ini turut diangkat peristiwa yang terjadi di Jawa Tengah, yakni kasus penculikan yang dilakukan oleh oknum yang menyamar sebagai wartawan sebelum kemudian membawa warga secara paksa. Kisah ini dihadirkan sebagai ajakan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kasus dan isu kemanusiaan yang masih terjadi hingga kini,” jelasnya.
(Nayla Putri Kamila)





