
Berlangsungnya diskusi publik terkait masa depan dan tantangan politisi muda. Sumber. Dok. Pribadi
Pada Jumat (14/11), Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) bersama Yayasan Satu Nama menggelar Diskusi Publik bertema “Masa Depan Politik dan Tantangan Politisi Muda” di Teater Prof. H. Aqib Suminto, FDIKOM. Kegiatan ini menghadirkan akademisi, aktivis, dan praktisi politik untuk membahas rendahnya keterwakilan anak muda di ruang kekuasaan, minimnya akses terhadap sumber daya politik, serta tekanan budaya patronase yang sering menghambat regenerasi kepemimpinan. Diskusi ini sekaligus menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk memahami peta persoalan dan peluang yang dapat mendorong lahirnya politisi muda yang kritis, berintegritas, dan berorientasi perubahan.
Dekan FDIKOM, Gungun Heryanto menjelaskan, pengetahuan dan literasi politik merupakan fondasi penting dalam menentukan sikap. Etika juga perlu ditempatkan dalam kerangka yang tepat agar setiap tindakan memiliki dasar yang jelas dan bertanggung jawab. Dalam lingkungan akademik, kemampuan membaca dan menganalisis situasi sosial menjadi bagian integral dari proses pembelajaran, sehingga mahasiswa terbiasa membangun pemikiran yang berangkat dari nalar yang sehat.
“Penyampaian pendapat sebaiknya didasarkan pada pemetaan masalah yang akurat, karena pemikiran akademik menuntut logika yang kuat sebelum pandangan diungkapkan. Kritik terhadap pemerintah atau birokrasi tetap dibutuhkan sebagai kontrol sosial, tetapi harus didukung data yang valid. Dengan begitu, setiap pernyataan publik memiliki bobot yang kuat, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik,” jelasnya.
Salah satu pengunjung acara Diskusi Publik, Fauziah Assyadi Muldi menyampaikan, generasi muda sering disebut sebagai bonus demografi, tetapi sebutan tersebut tidak boleh berhenti sebagai angka statistik. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa anak muda di Indonesia sangat aktif, terutama dalam ruang aktivisme. Namun, keterlibatan tersebut umumnya hanya bergerak pada isu-isu sosial dan belum banyak masuk ke ranah politik praktis. Kondisi ini membuat partisipasi generasi muda kerap berhenti pada komentar dari luar, bukan pada upaya terjun langsung untuk mengambil peran strategis dalam sistem politik.
“Banyak anak muda merasa belum memiliki kemampuan, pengalaman, atau lingkungan pendukung yang cukup untuk menapaki dunia politik. Situasi ini membuat mereka harus berjuang lebih keras dibandingkan kelompok yang sudah memiliki kredibilitas atau akses kuat. Akibatnya, potensi besar yang dimiliki generasi muda kerap tidak tersalurkan secara optimal, sehingga kontribusi yang seharusnya lahir dari energi kreatif dan gagasan segar belum sepenuhnya terdengar dalam dinamika politik Indonesia,” pungkasnya.
(Nadine Fadila Azka)





