Perluas Jaringan Pendidikan, FISIP UIN Jakarta Gelar Diplomasi Pererat Hubungan dengan Jepang

kegiatan diskusi tentang diplomasi dan hubungan bilateral Jepang dan Indonesia. Sumber. Dok. Pribadi


Pada Selasa (11/11), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) adakan diplomasi Jepang dan hubungan bilateral antara Jepang dan Indonesia dengan menghadirkan pembicara langsung dari Jepang. Acara yang berlangsung di Aula Madya lantai satu FISIP tersebut digelar untuk memperkuat hubungan antar dua negara serta memperluas jaringan beasiswa dan pendidikan ke luar negeri.

Wakil Dekan (Wadek) III Kemahasiswaan sekaligus Ketua Pelaksana (Ketuplak) acara diplomasi dua negara, Zaki Mubarak menjelaskan, kegiatan ini rutin diadakan setiap tahun dengan menghadirkan berbagai pemateri dari mancanegara. Program ini tidak hanya bertujuan mempererat hubungan kerja sama antara Indonesia dan Jepang, tetapi juga mendorong minat mahasiswa untuk melanjutkan studi ke Negeri Sakura.

“Upaya untuk mengirim lebih banyak mahasiswa UIN Jakarta agar dapat menempuh pendidikan di Jepang masih membutuhkan dukungan, salah satunya melalui pembentukan Japan Center seperti yang telah dimiliki Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI). Jumlah mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Jepang juga masih terbatas, sehingga perlu adanya peningkatan agar kesempatan belajar di luar negeri semakin terbuka luas,” jelasnya.

Moderator acara diplomasi, Eska Dwipayana menuturkan, hubungan bilateral antara Indonesia dan Jepang kian berkembang seiring dengan meningkatnya kolaborasi di berbagai sektor. Jepang banyak berkontribusi melalui pengiriman teknologi baru ke Indonesia, yang turut membuka peluang bagi pekerja Indonesia untuk diterima dengan baik di negeri tersebut. Selain itu, sektor pendidikan juga menjadi perhatian penting dalam kerja sama ini, karena dapat memperluas wawasan masyarakat Indonesia dan mendorong pengembangan pendidikan yang lebih maju.

“Nilai-nilai budaya Jepang seperti etos kerja dan rasa tanggung jawab yang tinggi, termasuk rasa malu ketika melakukan kesalahan sekecil apa pun seperti terlambat datang ke tempat kerja, masih relevan untuk diterapkan di Indonesia. Nilai ini diyakini dapat membentuk karakter kerja yang lebih disiplin, berintegritas, dan berorientasi pada kualitas dalam setiap bidang profesi,” tuturnya.

(Nayla Putri Kamila)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *